Diantara Dua
7:01 PM
“Kok lo baru datang
sih jam segini Ara!! Lo uda gue sms kan tadi malem?” ucap ima dengan nada sinis
sambil mengerjakan PR dari Bu Sari tanpa melihat ke arahku. Sepertinya dia
marah besar padaku, tadi malam Ima sudah mengirimkan sms dan menyuruhku untuk berangkat
lebih awal karena dia ingin meminjam PRku tapi aku benar-benar lupa pagi ini.
aku diam mendengar perkataan itu. Hari ini aku sedang malas meladeninya, lalu
aku masuk kelas masih dengan hembusan nafas yang terengah-engah karena
berangkat lebih siang dari biasanya.
Setelah meletakkan
jaket dan tas, aku duduk di samping ima. “Sory Ma, aku lupa. Tadi aku bangun
kesiangan soalnya. Lo nggak marah kan?” tanyaku hati-hati pada ima yang
terlihat tidak memperdulikan pekataanku sambil bersungut-sungut ria. Ku lirik
jam di pergelangan tanganku ternyata sudah pukul 7.05 WIB. Tak lama Bu Sari pun
sudah terlihat di ambang pintu kelas dan pelajaran bahasa Jepang dimulai.
***
Siang ini sepertinya
orang-orang sedang kesetanan atau apa lah itu, mereka seenaknya nyalip dari
sisi kanan-kiri apa mereka nggak tau tata tertib di jalan sih kalau nyalip
harus lewat kanan omelku sepajang perjalanan menuju rumah. Syukurlah ternyata
pagar rumahku sudah terlihat dari sisi jalan, tak lama aku sudah tiba di rumah.
“Ima...... kok lo udah
di rumah gue? Tumben?” aku tersenyum lega karena seharian ini ima ngambek nggak
mau di ajak ngobrol seharian, tapi anehnya dia datang ke rumah nggak bilang –
bilang dulu.
“Iya,sory tadi gue
kira lo udah balik duluan. Tadi Dea bilang lo nangis waktu papasan sama dia di
toilet. Lo nggak papa kan Ra?” tanya ima dengan nada khawatir melihatku.
“Masuk dulu yuk.. gue
nggak papa kok.” Jawabku tenang sambil menuju ruang tamu dan mempersilahkan Ima
masuk lalu mengambilkan dua gelas air putih untukku dan Ima.
“Lo kenapa sih? Seharian
ini lo beda banget ra. Please share ke gue, jangan bilang
gara-gara tadi gue ngambek.” Ucapnya dengan nada menyindir.
“Sebenarnya semalem
Didi tiba-tiba ng-wall gue. Terus sms-an sama gue sampai pagi tadi. Gue kurang
tidur, makanya tadi gue berangkat siang.” Ucapku dengan nada getir.
“Terus kenapa lo
nangis tadi di toilet?” ima yang terlihat bingung dengan jawabanku sebelumnya,
tatapan matanya seperti memaksaku untuk berkata apa adanya atau mati di
cekiknya.
“Ata ngasih tau gue
kalo Didi sekarang udah jadian sama Vivi. Anak SMA Pembangunan. Gue nggak tau
Ma, kayaknya gue belum rela kalau didi secepat itu lupain gue.” Jawab ku ter
bata-bata. Rasanya sesak yang sangat menyiksa di ulu hatiku, badanku tiba-tiba
terasa lemas. Mataku perih seperti ribuan jarum yang tengah menusukku tanpa
ampun, aku berusaha untuk mengedipkan mataku beberapa kali supaya butiran itu
tak menetes dari sudut mataku.
Beberapa minggu ini
aku sempat dekat dengan didi. Awalnya karena aku sering melihatnya berangkat
sekolah pada waktu yang hampir sama denganku. Aku mulai tertarik pada didi
sejak memasuki bangku SMA, mencoba mencari informasi dimana rumahnya dan
beruntung aku punya kakak sepupu satu sekolah dengan didi ternyata. Didi adalah
orang yang sangat perhatian dan menjadi penyumbang motivasi terbesarku tapi
tidak untuk saat ini.
“Ra, lo serius suka
sama didi? Ra, please lo harus kuat, jangan nangis gara-gara tuh anak!” ima
mencoba memecah keheningan yang berlangsung cukup lama diantara kami dan dapat
aku rasakan bagaimana perasaan yang sama sepertiku.
“ya udah ra, gue harus
pulang. Udah sore soalnya, tapi lo harus tetap jaga kesehatan ya. Gue lihat dari
tadi pagi lo pucat.” Pamit ima sambil berdiri dan kemudian memelukku dengan
maksud menenangkanku. Sepertinya dia tau kebiasaanku saat aku seperti ini yaitu
memberikanku waktu untuk sendiri.
--
Malam ini begitu
panjang, hujan turun rintik – rintik membuat suara tik.tik.tik... yang
berirama. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju meja belajar lalu
mengambi laptopku. Rasa sedihku bukan karena ata menjalin kasih dengan vivi. Ya
itu hanya salah satunya, tapi lebih ada hal lain yang membuatku menyesal. Hal yang
pertama aku lakukan adalah membuka facebookku, lalu menuju profil didi.
“dari awal kita selalu
beda pendapat, kamu egois. Tapi kamu lucu.” Disana tertulis sejak tanggal 6
juni. Tepat di hari ulang tahunku dan saat aku mulai tak berkomunikasi
dengannya. Bodohnya lagi aku menganggap itu bukan untukku, tapi aku terlambat
menyadari bahwa yang didi maksud adalah aku “ARA”. Hal itu aku ketahui dari
comment didi di status Ima. Lalu aku bergerak melihat status didi yang lainnya.
“Thanks God, dia
sangat baik. Tapi baru jadian aja udah minta yang aneh-aneh. Aku kudu pie ya
Allah?” setelah ku teliti ternyata itu status didi yang ditujukan untuk vivi
dan dibuat baru beberapa menit yang lalu. Mataku panas dan butir air mata itu
tak mampu ku tahan lagi. Rasa sakit yang ku pendam akhirnya meluap juga setelah
beberapa kali aku mencoba menutup mataku dari kenyataan ada seorang pendamping
untuk Didi.
Aku belum siap
menerima kenyataan itu, karena baru dua minggu yang lalu dia mengatakan dia
ingin PDKT sama aku. “ARA, BUAT APA LO HABISIN WAKTU BUAT COWOK KAYA GITU”
omelku dalam hati. Buru – buru aku mematikan laptopku, talu menuju tempat tidur
yang letaknya di sebelah meja belajarku. Mulai ku putar beberapa lagu untuk
membuatku lebih tenang, dari White Horse- Taylor Swift, never let you go –
Justin Bieber, sampai lagunya semua tentangmu-Vierra yang akhirnya membuatku
meneteskan air mata lagi. Aku mulai menirukan bait demi bait lirik lagu itu,
semua tentangmu selalu
membekas di hati ini
cerita cinta kita
berdua akan selalu
semua kenangan tak
mungkin bisa (ku lupakan ku hilangkan)
takkan mungkin ku
biarkan cinta kita berakhir
reff:
ku tak rela, ku tak
ingin kau lepaskan semua
ikatan tali cinta yang
tlah kita buat selama ini
aku di sini selalu
menanti
ku takkan letih
menunggumu
aku di sini (aku di
sini) selalu menanti (selalu menanti)
ku takkan letih
menunggumu (menunggumu)
Dengan suara parau dan
mata yang sembab aku melantunkan lagu itu.
Aku beberapa kali
mengirimkan pesan ke Didi, namun tak ada satu pesanpun yang ia balas. Aku mulai
menyerah untuk terus berharap satu saja pesanku yang ia jawab. Tapi itu memang
kebiasaannya jika sedang dekat dengan seseorang. Mataku mulai terasa berat dan
aku memutuskan untuk tidur.
***
“Ara. Gue punya berita
baik buat lo.” Teriak ata yang berlari menuju arahku.
“kenapa ta? Emang apa
yang baik?” tanyaku sambil mengernyit.
“Tadi pagi gue buka
facebook, terus gue lihat didi update status yang intinya dia udah putus sama
vivi. Nggak nyangka , baru seminggu jadian udah putus lagi. Hebat banget tuh
anak, kenalin gue ke didi donk ra. Gue pengen latihan agak playboy dikit,
seneng kali ya.” Ucap ata dengan nada semangat dan riang. Entah apa yang
ada di pikirannya, setidaknya aku sangat terbantu. Hatiku terasa lega, ata memang
sahabat yang sangat baik, walaupun sebenarnya dia sendiri belum pernah melihat
didi. Ata tau didi hanya lewat cerita-ceritaku dan facebook saja.
Drrrt...Drrrrt...drrrt.
Hand phone yang ada di saku rok abu-abuku bergetar. Buru-buru aku mengambil
lalu ku baca layar ponselku siapa pengirim pesan itu. Aku hampir tak percaya,
“Dari siapa ra?” sambut ata yang telihat ingin tahu.
“Didi Ta.”
Jawabku dengan nada tak percaya.” Cepet buka ra!” sahut ata.
From: Didi
11-11-2011 09:30
Maaf ya ra, aku baru
bales sms kamu. Kemarin aku sakit. Gimana kabarmu?.
Dengan cepat aku
menekan tombol replay
Send to: Didi
11-11-2011 09:32
Iya di, gpp kok. Gue
baik-baik aja. Kabarnya lo putus? Kenapa?
Tapi pesanku tak
kunjung di balas. Aku mulai gusar dan memutuskan tidak lagi berharap banyak
padanya.
***
--
Dulu sebelum dia
jadian dengan vivi dia sempat mengajakku bertemu hingga beberapa kali ku tolak,
dia PDKT, menurutku sih gitu. Setelah permintaan terakhirnya untuk meminta
waktu bertemu dengannya aku tolak, sejak itu dia mulai menjauh. Aku sangat
terpukul terlebih lagi dia sudah ku nanti sejak aku menginjak bangku kelas X
hingga sekarang aku berada di kelas XII. Miris, kenapa dulu aku menolaknya
bertemu, orang yang aku nanti – nanti. Tiba –tiba ponselku bergetar,aku
meraihnya dengan cepat karena aku selalu menaruh ponsel di dekat tempat
tidurku.
From :
Didi
11-11-2011 20:11
Hi ara. Lagi belajar
ya? Maaf baru sempat bles. Ra, kamu punya cow blm sih?
Aku tercengang membaca
pesan itu.
Send to:
Didi
11-11-2011 20:21
Enggak kok, kan ini
malam minggu di.hehe. kenapa di emangnya? Kok tanyanya gitu sih?
Lalu tak lama didi
membalas pesanku, aku sebenarnya takut membaca pesan itu tapi segera aku
membukanya.
From: didi jelek
11-11-20011 20:25
Ra, aku mau daftar
donk kalau kamu belum punya cowok, hehe. Nanti aku kenalin kamu ke ortuku, ortu
kita kan saling kenal.
Aku mengganti namanya
di ponselku agar terlihat menggemaskan. Dengan shock, dan aku membaca kata demi
kata dan melihat dengan mata yang selebar mungkin. Ternyata itu nyata, tapi aku
sedikit ragu untuk tiba-tiba menyayanginya lagi.
Send to: didi jelek
11-11-2011 21:39
Didi, maaf aku sudah
punya cow. Aku baru saja jadian, so aku gag bisa kalau dalam waktu dekat ini.
Aku juga suka kamu.
Pesan terakhirku
ternyata tidak di balas. Entah, sepertinya didi kecewa. Aku sekarang memang
sedang dekat dengan ervan, tapi memang belum pacaran sebatas kami saling tahu
bahwa aku mulai menyukainya. Tapi beberapa minggu belakangan sikapnya berubah,
aku juga kurang tahu apa sebabnya. Didipun sulit di hubungi setelah kejadian
itu.
***
“ma, gue suka
ervan. Apa dia juga suka gue ya.?” Tayaku pada ima untuk mendengarkan
pendapatnya. Ima mengernyit lalu menatapku tak percaya. Ima adalah orang
yang menjembatani perkenalanku dengan ervan, setidaknya aku meminta pendapat
itu pada orang yang tepat.
Hari ini kami pulang
pagi jadi aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah ima. Di salah satu
ruangan di rumah itu, sepertinya itu dua buah kamar tidur yang dipisahkan oleh
pintu besi yang biasa di geser saat teman-teman ima atau kakak perempuannya
bermain ke situ.
“ gue pinjam netbook
lo donk ma.” Pintaku pada ima.
“ambil aja di bawah
laci itu” jawab ima sinis sambil jari telunjuknya mengarahkan pada satu tempat.
Aku selalu membuka
facebook,hehe. Seperti sudah kewajiban untuk menyelidiki para lelaki itu. Aku
mencari nama ervan pribumi lalu aku melihat profilnya. Astaga! Aku kecewa,
sedih, kacau, tapi tidak menitihkan airmata.
“I LOVE U” di ikuti
beberapa comment yang cukup banyak dari KEKASIH RESMINYA.
“ma, gue terlambat.
Dia ngganggep gue apa sih?” aku berusaha tenang mengatakan hal itu.
“Apa sih beb? Kenapa?
Ervan kenapa?” jawab ima sambil mendekatkan tubuhnya padaku untuk membaca
status ervan.
“Astaga,tuh anak gag
tau di untung! Sabar ya ra.” Ucap ima lembut sambil mengelus rambutku.
“ma, kenapa sih gue
harus kehilangan mereka yang gue sayang. Gue nolak didi Cuma gara-gara ervan!!
Sekarang apa yang dia lakukan. Gue salah apa sih ma? Didi udah sama Riska
sekarang. Barusan ata yang sms gue, sekarang gue harus baca kalo ervan ternyata
sudah punya kekasih RESMI.” Aku menumpahkan segala emosiku, bagai hantaman
badai yang bertubi – tubi untuk kayu yang rapuh ini.
“Lo musti ikhlas. Lo
nggak salah, lo udah bener... ikhlasin didi and ervan. “ ucap ima tegas sambil
mengulurkan sapu tangan padaku. Mataku nanar, aku tak bisa membohongiku kalau
didi masih yang terbaik bagiku. Ervan yang selalu mengatakan bualan-bualan yang
sekarang membuatku terhempas jauh dari Didi dan dia berlalu dengan kekasih
barunya.
“ra, gue sayang sama
lo. Kasih kesempatan itu ke gue.” Suara khas ata yang ternyata berdiri di
ambang pintu kamar ima. Entah sejak kapan dia berada di situ. Ata sahabat
dekatku selama ini memendam perasaan lebih padaku.
“sori Ra, tadi
gue yang nyuruh ata ke sini. Ata udah lama naksir lo, tapi dia nggak mau
ngerusak persahabatan antara kalian.” Ima ternyata sudah menetahui bahwa ata
punya perasaan lebih ke aku. Aku menatapnya dan mata kami beradu, aku melihat
ketulusan tepat di manik matanya,mukanya merah padam.
“gue mau ta, asal lo
bisa jaga gue.” Sebenarnya agak ragu untuk mengutarakannya, tapi memang
hanya ata yang sejak dulu selalu ada waktu buat aku. Rasa haruku pada ata tak
terbendung, aku berterimakasih pada tuhan karena telah mengirimkan Ata padaku
saat aku terpuruk. Lalu aku berjalan mendekatinya dan dia menggenggam tanganku
untuk membuatku merasa lebih yakin pada keputusanku.
***

















2 comments
Hemmmmm....
ReplyDeletekenapa ya?
ReplyDeleteGive your respons with leaving comment