Ngetrip ke Karanganyar - Ndoro Dongker

1:09 AM



Menikmati perkebunan dengan hawanya yang sejuk menjadi dambaan saya untuk destinasi wisata mengawali tahun baru 2014. Desa kemuning, kecamatan margoyoso, kabupaten karanganyar adalah salah satu tempat dimana perkebunan teh yang cukup terkenal, jadi tempat wisata akhir pekan. Salah satu sahabat saya mengajak saya ke ndoro donker dalam sebuah chat di facebook. Saya menyambut baik ajakan untuk ke ndoro dongker, meskipun pada awalnya saya kira itu tempat angker ternyata itu sebuah rumah teh. Akhirnya kami memutuskan untuk ke ndoro dongker sebagai tujuan wisata. Saya bersama kedua teman saya memang lama tidak bertemu, kami hanya bertemu saat libur semester. Saya bersiap – siap menuju lokasi, setelah menimbang cuaca hari ini cukup cerah—posisi masih jam 7 pagi dengan kabut,harapan saja sih. Setelah memastikan barang yang harus dibawa seperti jas hujan, sweater/jaket hangat, sepatu sendal(selera aja sih pake kets juga boleh), dompet—nah loh ini wajib , saya pun meluncur dari kota bersinar alias Klaten. 

Saya sampai kabupaten sukoharjo setelah 25 menit kemudian anggap saja ini cepat karena jarak rumah saya ke ke sukoharjo kota ±15km. Teman saya ini namanya Vani, saya sampai di rumah Vani pukul 08.00 on time dan ternyata Vani masih sia-siap. Saya sengaja disiplin waktu untuk mengantisipasi kalau siang menjelang sore daerah solo dan sekitarnya sering diguyur hujan. Setelah Vani siap, kami pun meluncur dengan kecepatan sedang ke rumah sahabat saya yang satunya yaitu Gina. Saya dibonceng Gina, karena saya nggak tahu rutenya sih meskipun saya biasanya selalu yang didepan. Vani mengendarai sendirian, kamipun mulai memasuki kabupaten karanganyar. Saya sempat ke karanganyar untuk sosialisasi tapi itu setahun yang lalu, so saya nggak jamin saya hafal jalannya akhirnya saya menyerahkan kendali motor untuk Gina—ini pertama kali Gina boncengin saya dengan jarak tempuh yang cukup panjang.

Setelah melewati terminal Kab.Karanganyar kami memilih plang arah Candi Sukuh dan beberapa candi lainnya. Hawa mulai sejuk saat melewati terminal Karangpandan kemudian sampailah kami di Desa Kemuning. Kami sempat berhenti untuk bergantian, saya memboncengkan Gina karena jalanna mulai naik. Jalannya cukup berkelok, jadi tetap waspada ya kalau ke sana. Akhirnya kami berhenti ke sebuah tempat. Ndoro dongker. Suasananya cukup sejuk cenderung dingin, hanya ada beberapa pengunjung dan kendaraan yang terparkir disana. Vani memilih tempat duduk paling pojok kiri, dekat dengan perkebunan teh. Seorang pelayan mendekati meja kami dan memberikan buku menu. Akhirnya kami memesan teh—maaf saya lupa namanya –atas rekomendasi Vani, tiga piring nasi goreng—dua pedas, satu sedang—dan timus keju. Karena human error si pelayan, kami diantar dua nasi goreng sedang dan satu pedas. Ah ya sudahlah, kamipun makan dengan lahap. Oh ya saya sampai di Ndoro Dongker sekitar 10.30. hawa dingin membuat nafsu makan meningkat itu sepertinya benar karena kami masih makan snack yang sempat saya dan Vani beli sebelum berangkat. 


Suasana menjadi kurang sedap ketika pengunjung mulai berdatangan dan ramai banget.
Matahari juga mulai naik, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Kemuning yang sebenarnya—ketawa devil. Saya berjalan mendahului menuju parkiran diikuti Vani dan Gina, tiba-tiba Vani memanggil saya dengan wajah bingung. Setelah di cek, Bill yang kami terima ternyata salah—habisnya kok dikit?loh kok bisa? Padahal no bangkunya benar. Berhubung kami baik hati akhirnya saya menemui petugas kasir, dan no bangkunya benar tetapi pesanan kami tidak sesuai dengan yang tertera di bill yang kami terima. Setelah dibenarkan, kami akhirnya melanjutkan ke kebun teh. Setelah mengambil beberapa foto akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke air terjun Jumog.


Jaraknya 1,5 dari gerbang utama sebelum memasuki kawasan utama, yang kami harus membayar 1000/kendaraan. Hawanya sejuk cenderung dingin karena cuaca mendung, kami membayar 5.000 untuk tiket masuk dan menuruni 116 anak tangga. Saya merasa tak terlalu lelah jika dibandingkan dulu perjuangan saya menuju curug semirang. Akhirnya kami menikmati air terjun yang indah, desain tempatnya juga sudah indah dan rapi. Saya justru kurang suka karena riuhnya suasana, ada dangdut dan pasanagn kekasih di mana-mana. Saya mengambil beberapa foto kemudian memilih makan di dekat tangga naik. Harganya cukup terjangkau dengan uang 10.000 kita mendapatkan sepiring sate kelinci+lontong dengan bonus hawa sejuk ala pegunungan. Vani dan Gina sedikit merasa lelah ketika menaiki 116 anak tangga, saya juga sedikit lelah tetapi kami berusaha naik dengan perut kenyang.

Kami pulang diiringi gerimis setelah sholat di masjid dekat air terjun Jumog. Berhubung saya nyidam duren—tapi nggak hamil lho ya, Gina berbaik hati memberhentika kendaraan di deretan penjual duren setelah saya merayu untuk berhenti. Penawaran tidak lama, cukup sebutkan “buk tumbas duren manis, rodo mlonyoh” begitu Vani tawar menawar dengan ibu penjual duren, karena nggak ada yang bisa milih duren dan nawar duren akhirnya kami pasrah sama penjualnya. Saya sempat ragu karena durennya tidak harum dan masih hijau, eh ternyata setelah fix kami mendapat harga 25rb/1buah. Penjual dengan sedikit kesal membelah duren dan meminta kami mencobanya karena saya terus mendesak apakah durennya manis.

You Might Also Like

2 comments

Give your respons with leaving comment