"Hai", Jatuh Cinta
12:52 AM
Hai,
Kata
pertama yang kau ucapkan saat pertama kali kita bertemu. Aku masih terlalu muda
untuk mengenal cinta, bahkan mereka tak percaya aku jatuh cinta. Jabat
tanganmu,tak erat bahkan aku tak merasakan bahwa kita bernah berjabat tangan.
Tanganmu lebih hangat dibanding tanganku yang lebih mungil yang tenggelam dalam
tanganmu.
Aku
bilang ini kisah paling tak romantis. Aku sudah pernah ditawarkan cinta, tetapi
aku tak pernah jatuh cinta. Namun, matamu terlalu hambar untuk sebuah awal
pertemanan. Menolak perasaan yang aku rasa juga dinamakan cinta. Aku tidak tahu
apakah kau bisa jatuh cinta hanya dengan perkataan dan tatapan? Aku berharap
kau juga bisa. Tak cukup jika hanya aku yang berjuang. Harusnya kau juga
berjuang. Tak cukup jika aku yang mulai merangkai tanpa kau membantu
meneruskan.
Andai sejak awal kau membuatkan
kalimat untukku mungkin aku tidak hanya akan mengingat satu kata yaitu “Hai”.
Aku
sibuk memilah binar matamu, mencari binar terbaik supaya paling indah aku
ingat. Hanya saja binar mu sama. Kau duduk manis di depanku dengan menundukkan
pandanganmu. Mana bisa aku memaksamu untuk mendongakkan wajahmu. Jauh, kau
terasa asing saat pertama kali aku melihatmu. Kau berbeda, memilih untuk
sembunyi dibalik topi yang sedikit menutupi wajahmu.
Cukup
temui aku saat aku ingin bertemu, dalam mimpi mungkin. Aku nyatanya tak pernah
menemuimu lagi sejak pertama kali kita bertemu, di depan gedung yang berdiri
kokoh tempat menimba ilmu. Daerah bukan dimana kita sebenarnya tinggali bahkan
dibesarkan. Hanya saja tempat itu menjadi besar dan berarti karena aku
menemukan mata hambarmu pertama kali.
Nampaknya
waktu mebantumu mengarahkanmu padaku. Membuatkan tema basi yang seharusnya
bukan aku saja yang bisa kau temui, tetapi waktu memilihkannya untukku. Tanpa minat
kau melewatkan hari dengan berkirim kabar denganku. Aku selalu tersenyum saat
pesan masuk datang. Setidaknya aku masih tahu bahwa kamu masih peduli. Aku
masih berjuang, agar jatuh cintaku tidak menjadi cinta yang kemudian cepat
hilang saat aku lupa tidak merawatnya. Memberi kabar seperlumu, atau kau
mengarahkan aku untuk mulai melupakan apa itu jatuh cinta. Petemanan sebagai
jaminannya. Pura-pura aku baik tanpa jatuh cinta.
Kau
punya duniamu sendiri. Sibuk. Begitulah kau habiskan menit-menitmu yang terus
berjalan. Tetapi selalu kau bumbui maaf untuk setiap menitmu yang terlewatkan
saat aku cemas menunggui sebuah pesan masuk ke handphone ku. Semoga kau tidak
bosan, semoga kau selalu menjadi teman yang tidak melarangku untuk jatuh cinta.
Jadilah seperti kopi yang selalu nikmat untuk di sesap entah saat masih hangat
atau mejadi dingin saat aku lupa telah membuatnya. Cukuplah kau membuatku lupa
bahwa kita sedang sangat jauh. Aku hanya menemuimu sekali. Tak cukup bagimu
untuk jatuh cinta pada senyum pertemanan yang sempat aku tunjukkan. Kau seperti
kutub, entah siapa yang membuatmu begitu. Semoga belum ada yang menyinari kutub
itu. Pengharapan.
Kampus
membuatmu jadi lebih sibuk. Masa yang tepat untukmu lebih cepat dewasa. Aku
terlalu muda untuk menawarimu jatuh cinta. Aku pikir kau akan samakan jatuh
cinta dengan cinta yang mungkin pernah kau rasakan dengan yang lain. Aku cepat
menjelma menjadi kanak-kanak saat aku merasakan jatuh cinta. Segeralah temui
aku kala kau mulai jatuh cinta. Jangan cinta yang seperti ku bilang, cinta yang
cepat terbakar menjadi sebongkah peduli sebagai pertemanan. Aku peduli kau
untuk sibuk dengan duniamu. Memberikan pengertian dengan hatiku bahwa kau
sekarang temanku.
Jangan
pergi lagi seperti yang sudah melupakan aku. Sesibuk apapun kamu. Kabarmu yang
terus aku tunggu, hingga nanti kau mulai jatuh cinta. Atau sama sekali tidak
melabuhkan cinta. Mungkin ada kunang-kunang yang bisa membawamu pergi hanya
dengan kerlip sinarnya yang samar, tetapi itu indah. Sangat indah bagiku juga.
Cukuplah aku merajuk pada Tuhan supaya kau mulai jatuh cinta.

















0 comments
Give your respons with leaving comment