Good Bye Not Let Go
5:40 PM
Sepoi
angin membuat fikiranku lebih ringan. Duduk berteman secangkir kopi—aromanya
nikmat yang memikat—di beranda rumah dengan beberapa tanaman hias membuat
dadaku tak sesesak tadi siang. Sebuah pesan singkat yang mengusikku di tengah
kesibukan yang tak pernah usai, dia (pengirim pesan singkat) dan aku menaruh
harapan pada seseorang yang sama, entah apakah ia memang membuat orang
terdekatnya mempunyai intuisi ke arah situ. Dulu, aku mengira bahwa hanya aku yang
mendapatkan perhatian itu tapi sayang, dia bahkan entah siapa lagi memberi pengakuan
sama seperti perasaanku.

diambil di sini
Pengakuan
yang cukup mengejutkanku siang tadi menjadi bukti tambahan bahwa memang aku
terlalu merasa diistimewakan. Selalu kau mengulangnya, entah apa yang sedang
kau fikirkan sekarang, aku bukan lagi dia atau mereka yang siap membuka jalan
fikiran untuk memaafkanmu. Kegiatan yang akhir-akhir ini menyitaku untuk beradu
bicara sangat ingin segera aku akhiri. Kau mungkin juga lelah melihatku—semoga kau
melihatku,atau bahkan kau tidak merasakannya—dengan gelagat tidak menyenangkan.
Aku atau dia mungkin bersalah, kau mungkin baik tapi terjemahanku dan dia mungkin
yang tidak baik. Banyak aku mengulangi kata “MUNGKIN” di cerita ini, kaulah
yang membuatkannya untukku. Aku belajar mengeja sekarang, memaknai setiap
gelagatmu sebuah realita atau kefanaan. Terimakasih, kau memberiku kesempatan
untuk merasakan getar ini di nadi terdekatku hingga aku bahagia. Saran tak pernah
mencuat dari mulutmu, kau membuat mereka seolah-olah terlihat baik tapi berbeda
pada kenyataannya.
















0 comments
Give your respons with leaving comment