Beranda
selalu sepi tanpa ada kamu atau kunang-kunang yang singgah saat aku termangu
sambil menghabiskan waktu. Alas an mengapa aku tidak pernah kehabisan kata
membuat baris-baris cerita yang aku bagi untuk orang lain. Ada yang terbaik
dari pribadimu. Tidak pernah sekalipun kamu minta aku menuliskan tentangmu,
tidak sekalipun kamu menikmati ketika aku mulai bercerita dalam kalimat dangkal
saat kita bertemu.
Mata
ini lebih banyak tertunduk dan membangun sikap dingin karena aku terlalu takut
saat kamu marah karena alas an mengapa aku menulis adalah kamu. Cerita yang aku
tulis untuk orang lain tidak lebih banyak daripada aku bertutur tentang
pertemuan, perpisahan dan jeda diantara aku dan kamu.
Sejenak
kamu menatapku curiga, memastikan semua sisiku baik-baik saja tanpa ada namamu.
Kamu mulai membenciku saat aku luruh karena tidak ada yang menguatkan. Sepertinya
kamu membenci aku saat aku terlihat lemah, karena kamu percaya aku lebih kuat
dari apapun yang pernah kamu tahu dariku.
Satu
windu kita memutuskan untuk berteman. Membangun kepercyaan yang akhirnya runtuh
sebelum kita sama-sama menyenja.
Kamu
menjadi takut saat aku mulai berubah. Aku tidak benar-benar berubah, hanya saja
aku tidak ingin terus sama sepeti dahulu. Aku menginginkan pribadi terbaik di
hadapan Tuhan. Bahkan jika aku utarakan itu padamu, kamu justru tidak percaya
dan memilih untuk tidak menerimanya.
Kalau
kamu berfikir aku berhenti mendoakanmu, itu salah. Do’a menjelang fajar sering
aku selipkan namamu. Entah kapan kita akan bertemu dalam keimanan dan dalam
frekuensi do’a yang sama.
Terimakasih
terlah meninggalkan aku dalam batas fajar sehingga aku bias menjemput pagi
sendirian. Aku cukup berani untuk itu, aku justru takut saat kamu meninggalkan
aku dalam senja karena aku mungkin sulit mencarimu dalam kegelapan bukan dalam terangnya
sinar matahari pagi.
















