Sewindu kita berteman

9:16 AM

 







Beranda selalu sepi tanpa ada kamu atau kunang-kunang yang singgah saat aku termangu sambil menghabiskan waktu. Alas an mengapa aku tidak pernah kehabisan kata membuat baris-baris cerita yang aku bagi untuk orang lain. Ada yang terbaik dari pribadimu. Tidak pernah sekalipun kamu minta aku menuliskan tentangmu, tidak sekalipun kamu menikmati ketika aku mulai bercerita dalam kalimat dangkal saat kita bertemu.
Mata ini lebih banyak tertunduk dan membangun sikap dingin karena aku terlalu takut saat kamu marah karena alas an mengapa aku menulis adalah kamu. Cerita yang aku tulis untuk orang lain tidak lebih banyak daripada aku bertutur tentang pertemuan, perpisahan dan jeda diantara aku dan kamu.
Sejenak kamu menatapku curiga, memastikan semua sisiku baik-baik saja tanpa ada namamu. Kamu mulai membenciku saat aku luruh karena tidak ada yang menguatkan. Sepertinya kamu membenci aku saat aku terlihat lemah, karena kamu percaya aku lebih kuat dari apapun yang pernah kamu tahu dariku.
Satu windu kita memutuskan untuk berteman. Membangun kepercyaan yang akhirnya runtuh sebelum kita sama-sama menyenja.
Kamu menjadi takut saat aku mulai berubah. Aku tidak benar-benar berubah, hanya saja aku tidak ingin terus sama sepeti dahulu. Aku menginginkan pribadi terbaik di hadapan Tuhan. Bahkan jika aku utarakan itu padamu, kamu justru tidak percaya dan memilih untuk tidak menerimanya.
Kalau kamu berfikir aku berhenti mendoakanmu, itu salah. Do’a menjelang fajar sering aku selipkan namamu. Entah kapan kita akan bertemu dalam keimanan dan dalam frekuensi do’a yang sama.
Terimakasih terlah meninggalkan aku dalam batas fajar sehingga aku bias menjemput pagi sendirian. Aku cukup berani untuk itu, aku justru takut saat kamu meninggalkan aku dalam senja karena aku mungkin sulit mencarimu dalam kegelapan bukan dalam terangnya sinar matahari pagi.

You Might Also Like

1 comments

Give your respons with leaving comment