Jangan banyak prasangka
9:16 AM
Naru terus tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang terus bercerita sepanjang 20 menit terakhir sejak mereka memesan minuman. Ada surat yang ditinggalkan oleh seseorang untuknya pada hari itu. Naru ragu menyebutkan sosok yang dia curigai pemilik surat di bawah tumpukan bukunya. Hingga hari ini Naru masih bangga dan menceritakan kejadian itu pada siapa saja—ini pemikiran saja, pasalnya sudah tiga kali dia menceritakan kejadian itu padaku—hingga aku mendengarkan sambil lalu.
Naru tidak peduli dan tidak memperhatikan jika sahabatnya mulai bosan dan terus menyesap es teh di depannya hingga hampir habis. Sepucuk surat itu di ceritakannnya berapa kemungkinan manusia yang dicurigainya, hingga akhirnya Naru berhenti dan menyesap es kelapa muda di depannya. “Loe gantian cerita dong. Gue capek cerita terus” ucap Naru sambil menatap sahabatnya yang mulai lesu memandang bakso yang mulai dingin.
Naru masih mengamati sahabatnya yang sedang memakan bakso untuk menghindari pertanyaan sahabatnya. Sahabat Naru mulai merasakan wajahnya memanas sepertinya sejak tadi Naru masih menajamkan pandangannya pada sahabatnya yang masih bungkam. “Apa? Makan gih Ru.” Ucap sahabat Naru sambil melirik bakso yang baru satu dimakannya. Sahabat Naru akhirnya tidak tahan “Oke loe mau denger gue cerita gimana? Loe tahu gue udah nggak ada gitu-gitu lagi Ru.” Sambil terus memakan bakso di depannya berharap Naru mengganti topik kemudian Naru segera menyahut “Terus semua tulisan loe di blog buat siapa? Loe sembunyi terus sih. Terbuka dikit bisa.” Ucap Naru cepat sambil membuka handpone yang dipegangnya.
“Ru, blog gue itu isinya macam-macam. Nggak semua yang gue tulis itu pengalaman pribadi gue. Nggak semua yang ada di blog itu pelakunya gue. Udah kan?” jawab sahabat Naru dengan nada manis. Naru pada awalnya mengira tulisan di blog sahabatnya adalah ditujukan pada seseorang atau paling tidak kisah sahabatnya tersebut hingga akhirnya Naru mulai bosan ketika Naru merasa cukup membaca tulisan di blog sahabatnya dan menganggap semuanya baik-baik saja. Barangkali mereka harus sering duduk bersama untuk saling bercerita sehingga Naru bisa memahami keadaan sahabatnya bukan hanya dari jarak jauh. Naru pikir blog itu benar-benar bisa mencerminkan keadaan hati sahabatnya sehingga dia sering kesal karena merasa beberapa tulisan itu ditujukan untuk dirinya. Naru bahkan menaruh curiga bahwa penulis surat itu adalah sahabatnya yang sengaja mengerjainya supaya terus berharap. Naru hanya terdiam lalu melanjutkan makan bakso yang tinggal dua butir.
















0 comments
Give your respons with leaving comment