Kopi.

6:55 AM


Kopi.
Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti meminum cairan pekat di cangkirku. Menghindari memang mudah tetapi meninggalkan sungguh sulit, meskipun ini hanya minuman. Malam ini aku kembali mengambil cangkir lalu menuangkan kopi instan dan air panas pada cangkir yang sudah lama tidak aku sentuh. Setengah tahun lalu, ya sejak itu baru kali ini aku membuat kopi lagi. Aku sesungguhnya tidak suka meminum kopi instan, tetapi paling tidak ini penawar terbaik setelah aku menyerah pada diriku untuk meninggalkan kopi.
Kopi dengan aromanya memang membuat orang terjaga, tejaga dari mimpi dan gelapnya suatu fase dalam tidur. Dia mungkin tidak sadar bahwa aku berhenti minum kopi sejak ibu dan kata-kata yang diucapkannya pada malam itu aku ingat benar. Seseorang yang pernah membuatku terjaga untuk menunggu telfonnya. Lalu dengan mudahnya dia katakan jangan terlalu banyak minum kopi. Kopi penuh kafein, kau harusnya tahu kan? Setidaknya itu yang masih aku ingat.
Menjadi semakin sulit bagiku jika tidak meminum kopi dalam sehari. Aku tidak secandu dulu, manyesap kopi sehari lebih dari tiga kali hingga kepalaku pusing karena tekanan darahku ikut naik. Merokok memang tidak baik, tetapi bagi mereka yang telah meninggalkan rokok tanpa kembali menghisapnya akan aku berikan dua jempol. Hebat benar, saat aku masih sangat sulit untuk meninggalkan kopi padahal ini penuh kafein.
Ketika aku meminum kopi , aku merasa dia masih setia mengingatkan tetapi pada akhirnya itu semua sebuah kenangan. Aku masih menekuri cangkirku, menyesapnya lalu hanya melihat endapan ampas pada dasar cangkir.
Aku  Berhentilah memulai. Kopi tidak benar untuk dikonsumsi dalam jumlah banyak tetapi aku tidak akan memulai melalui pikiranku untuk selalu didampingi kopi tetapi aku belajar memulai dengan perasaan. Berhenti untuk menyisihkan ingat supaya dia tidak kembali dan mengingatkan aku.

You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment