Dukderan- Perayaan Menyambut Ramadhan
8:06 AM
Menyibak
jalanan menuju dukderan membuat saya sedikit khawatir karena sudah menjelang
buka puasa. Dukderan yang kami kunjungi mirip seperti pasar malam yang biasa
kami kenal. Hari ini saya dan teman saya berencana untuk merasakan buka puasa
di masjid Kauman Semarang. Masjid yang terletak di dekat pasar Johar ini
merupakan salah satu masjid yang tertua dan terkenal di Semarang, setelah
menempuh perjalanan 30 menit akhirnya saya dan teman saya sampai di gang masuk
menuju pasar Johar. Pasar Johar sedikit berbeda saat awal puasa seperti ini
karena ada Dukderan di sepanjang jalan pasar Johar.
Saya
tertahan untuk masuk ke area masjid Kauman karena sesaknya pengunjung dan
penjual di sana. Saya memilih untuk sholat di salah satu mushola di dekat
kampung Cina. Masjidnya cukup sederhana dan sedikit membingungkan—saya buta
arah kiblat ketika sholat di sana, hingga sekarang pun masih—membuat saya ragu
memilih arah kiblat namun akhirnya ada imam yang memulai sholat. Saya terus
bergumam dengan teman saya sepanjang menuruni tangga mushola menuju lantai
bawah. Mushola ini cukup kecil hanya berukuran 10 orang mungkin sudah sesak.
Setelah
sholat, saya dan teman saya perkir di dekat jembatan pasar Johar kemudian
berjalan menuyusuri pedagang di sepanjang jalan. Para pedagang mulai
meneriakkan barang dagangannya sambil mengepakkan uang mereka diatas barang
dagangan. Saya dan teman saya hanya tersenyum sambil menundukkan kepala berlalu
melewati pedagang-pedagang yang kebanyakan menjajakan pakaian dan tumbuhan
sintetis.
Teman
saya menggenggam erat jemari saya ketika menerobos manusia yang berjubel
memenuhi jalanan sambil melirik ke arah para barang dagangan yang terpajang. Saya
menghentikan langkah ketika melihat sabuk yang menarik, kemudian teman saya
segera berhenti ketika saya mematung melihat sabuk yang dijajakan pedangang. “sabuknya
berapa buk?” teman saya segera menerobos masuk ke dalam kios, “Sabuk yang hitam
20 ribu mbak, yang cokelat juga.” Jawab pedagang cepat sambil mengambilkan
barang yang ditanyakan teman saya, dengan cepat saya mengikuti memasuki kios. “Ya
sudah dua 20 ribu ya mbak.” Akhirnya teman saya menawar dan pedagang
menyetujuinya.
Saya
meneruskan menuju masjid Kauman untuk sholat isya’ dan beristirahat sejenak. Setelah
itu teman saya mengajak untuk membeli makanan dan minuman di warung tenda depan
masjid Kauman. Saya membeli kebab dan teman saya membeli mie ayam di warung
sebelah. Seseorang memanggil saya dari kejauhan ada tiga orang yang menghampiri
saya, mereka adalah teman kuliah saya yang kebetulan juga ingin melihat
dukderan di sini. Akhirnya kami menyusul teman saya yang masih menekuni mie
ayam didepannya, saya memesan es susu sambil menunggu teman saya yang lain
memesan makan. Kami berpisah setelah makan karena arah parkir kita berbeda
selain itu sesaknya dukderan ini membuat kami terpisah.
Teman
saya mengusulkan untuk menaiki salah satu permainan di sana. Saya memilih
menaiki kurungan manuk dibandingkan
entah permainan apa yang menggoyang-goyangkan tubuh berbentuk lingkaran. Saya terus
menahan senyum ketika teman saya berguman “Eh, depan belakang kita pasangan
pacaran semua.” Saya hanya memandangnya lalu kami tertawa bersama. Kami terus
tertawa dan sesekali memekikkan suara ketika permainan mulai berjalan dan berputar
pelan. Menikmati dukderan dari ketinggian membuat kami berseru bahagia
bersama-sama. Kadang kita lupa untuk menikmati kehidupan dengan sederhana,
dengan cara yang paling mudah dan murah. Setelah menaiki kurungan manuk kami memilih untuk langsung pulang karena waktu
menjelang malam.
















0 comments
Give your respons with leaving comment