Malam ini aku
tergelitik menceritakan sepenggal kisah kenapa aku terjerembak di Ilmu
Keperawatan.
Sejak kecil aku
menuliskan kata “Dokter,Dosen, Guru, Bidan” oke itu ketika aku kelas 1 MI.
bmeskipun beberapa temanku menuliskan Insinyur, Polisi, Tentara,tetapi Dokter banyak dituliskan kala itu
Hal tersebut terus
mengalami perubahan bahkan hingga pada akhirnya aku ditanya oleh orang tua
“Ambil jurusan apa nak? Guru saja nak. Kamu kan paling tidak sudah punya
bekalnya karena sering bantuin bapak ibuk.”
“Teknik buk. Gajinya besar dan prospeknya bagus,
aku mendengarnya dari kakak tingkat”
“Kenapa ndak kesehatan apa pendidikan saja to nak?”
Tanpa jawaban aku
berlalu dari hadapan ibuk.
Beberapa bulan kemudian
aku nekat mendaftar ke salah satu PTK(perguruan tinggi kedinasan) dengan dalih
supaya kerjanya cepat dan pendidikan gratis. Raut muka ibuk jelas terlihat masam tapi karena nalurinya sebagai ibuk pengayom untuk anaknya beliau tetap
tersenyum sumringah. “Nggak papa nak, besok tes ibuk yang nganter”. Setelah beberapa bulan kemudian aku dinyatakan
tidak lolos. Bukan hal yang mengagetkan tapi cukup membuat patah hati mau
ngambil apa, jujur masih linglung banget mau jadi apa padahal udah masa-masa
genting. Temanku kebanyakan sudah mempunyai “cadangan” tempat kuliah, tapi aku
kekeh nggak mau kalo nggak negri alasan klasik sih karena nggak pengen
membebani orang tua. Akhirnya aku tetap menyusun rencanaku mengambil teknologi
pangan atau sastra dan pilihan lain yaitu Ilmu Keperawatan andai saja aku tidak
bisa mengikuti jalur SNMPTN UNDANGAN.
Pada waktunya tiba dan
saat pengumuman namaku tak tercantum di daftar siswa yang berhak mengikuti
jalur SNMPTN UNDANGAN. IPB dan UI ku kubur dalam-dalam , karena galau juga
akhirnya aku kekeh Ilmu Keperawatan UNDIP “HARUS DITERIMA”, ibuk tersenyum sumringah kali ini tanpa
gurat sendu di matanya berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Kalau nasib
belum jodoh*ehh maksudnya kalau nasib belum berpihak, aku tidak di terima di
Ilmu Keperawatan UNDIP lewat SNMPTN tulis, namun aku kekeh harus diterima
apalagi ibuk memberiku restu mencoba
jalur UM, test di Semarang saat puasa. Subhanallah aku dan keluarga tetap
menjalankannya sampai waktu berbuka puasa.
Nikmat itu datang
ketika akhirnya aku DITERIMA, masalah lagi muncul ketika aku sudah terlanjur
melunasi semua pembayaran di salah satu politeknik di Surakarta, ibuk dengan
lembut menenangkanku “nggak masalah nduk,
sekarang kamu milih di semarang opo
solo itu pilihanmu. Masalah uang bisa di cari, Ibuk udah sengaja nabung buat kamu.” Subhanallah “Aku mantap tetep
Semarang buk” aku tahu uang sebanyak itu cukup berat bagi keluarga kami yang
pas-pasan tetapi melihat semangat ibuk
aku menjadi terpecut maju terus.
Flash back cukup.
Now>>
Nah, setelah aku
tercebur di jurusan yang dulunya aku remehkan, mati-matian dulu aku menolak
jurusan ini dengan dalih gajinya tak seberapa sekarang aku mencintainya bahkan
merasa beruntung memilih jurusan ini. Aku sadar ketika aku menjadi insinyur
maka apakah akan ada banyak waktu untuk mengurus keluargaku? Mendampingi
anak-anakku dan mendidiknya? Atau aku akan sama sibuknya dengan suamiku?
Obrolan senja itu mengenai “keluarga, suami, anak, pekerjaan” dengan ibuk amatlah berharga.
Bahkan banyak orang
nyeletuk “kenapa nggak dokter? Nanggung
kalo cuma perawat.” Atau “perawat gajinya dikit kan?” pertanyaan seperti itu
sudah menjadi santapanku dan biasanya hanya ku jawab “Karena aku memilihnya,
Allah yang melapangkan aku menjadi bagian profesi ini”, sungguh banyak hal yang
ingin ku katakan ku urungkan.
Aku memilih keperawatan
bermula ketika beranjak ke tingkat 12 SMA, salah seorang tetanggaku menitipkan
pesan “Nduk, kuliah dokter, perawat
atau bidan saja. Biar kalau mau berobat dekat, murah apalagi baru sedikit
tenaga medis di desa ini.” Yah, itu salah satu motivasiku, aku ingin membantu
mereka setidaknya orang yang dulu turut andil menjagakanku ketika aku di
tinggal kedua orangtuaku mengajar. Lalu perkataan ibuk yang bertanya “Insinyur banyak kerja di lapangan nak, opo kamu kuat?”



















