Menjelang Petang
5:34 AM
Petang
menjadi pertanda malam telah menjemput, begitu pula ketika umur menjauhkanmu
dari kenangan masa kecilmu. Di sudut waktu Tuhan memperjelas kami—dua orang
manusia—untuk memecahkan pertanda…
Tempat yang cukup riuh
membuatku mengendikkan kepala lalu mendekatkannya padamu supaya suara sayup-sayup
itu tetap terdengar di telingaku. Aku tak pernah menyangka kala kau menanyakan
kenapa aku pernah menuliskan kisah kita—aku dan dia—pada sebuah media
komunikasi maya, nyatanya dia pernah membacanya. Malu rasanya saat pertama kali
harus mengakui itu tapi sungguh ketika aku diberika pilihan menghapusnya atau
tidak maka aku tetap tidak ingin menghapusnya sekalipun rona merah menggulung
di wajahku.
“Apa
kau sendiri yang menuliskannya” tanyanya di sela riuh
suasana petang itu,
“Apa?
Menuliskan dimana maksudmu?”
“Blog.
Tulisan itu semua hasil karyamu?”
Aku mulai mencerna arah
pembicaraannya sekarang “oh… iya, kenapa?”
Diam tanpa jawaban, dia hanya menatapku
sebentar lalu berdiri dari posisinya yang tadinya duduk kemudian melangkah ke
depan mengambil foto kami—kita sedang mengadakan acara dengan beberapa teman. Entahlah
apakah dia juga membaca beberapa judul yang mengisyaratkan itu dirinya, sungguh
aku peduli itu. Dulu aku sangat menghawatirkan hal itu namun nyatanya sikap
yang sedang dia tunjukkan sekarang amat berbeda dengan beberapa tahun lalu, tidak
akan perna ada yang salah dengan masa lalu, terlalu indah untuk di cela bahkan
terlalu naïf untuk di lupakan.
Cahaya kecilku mungkin itu
yang sedang dikirimkan Tuhan padaku waktu itu, ketika keadaan sedang menghimpitku
di sela roda gila memori tetapi dia datang dengan senyum lalu mengajakku bangkit
dan membenahi memori bersama denganku. Bahkan aku sempat membiarkan rasa itu
tumbuh hingga pada hari dimana dia mulai memberikan jarak padaku, bukan hanya
tempat tapi nalurinya pun tak sedang bekerja padaku.
Riang itu hanya menjadi
harapan, senyum itu hanya sebuah pajangan, tapi boleh kan sedikit aku
menyimpankannya untukmu cahaya kecilku. Aku masih menganggapmu sebagai
sahabatku, orang terbaik yang pernah hadir diantara banyak cahaya manusia di
bumi.
Sekalipun Tuhan amat
baik mempertemukan kita pada memori masa lalu aku cukup menikmatinya takkan ku
paksakan lagi untuk mengulangnya, semoga bukan seseorang yang mendampingi
hatimu sekarang yang membuat keadaan—persahabatan kita—berubah. Rasa tak nyaman
terpancar dari gurat wajah sumringah ketika aku menghargai jarak itu. Dia yang
mana lagi yang harus ku ulang. Cukup untuk membuatkan ini yang terakhir bagimu—semoga.
Jatuh cinta, aku boleh menyebutnya
begitu atau aku musuhnya, takkan pernah ada yang salah dengan sebuah pernyataan
hanya saja memori yang tercecer tidak ingin ku dustai lagi.
Aku disini mendoakanmu,
Tuhan semoga memberkahi hidupmu. Amin.

















0 comments
Give your respons with leaving comment