Terjebak di Keperawatan Sebuah Anugerah?

4:37 PM

Malam ini aku tergelitik menceritakan sepenggal kisah kenapa aku terjerembak di Ilmu Keperawatan.




Sejak kecil aku menuliskan kata “Dokter,Dosen, Guru, Bidan” oke itu ketika aku kelas 1 MI. bmeskipun beberapa temanku menuliskan Insinyur, Polisi, Tentara,tetapi  Dokter banyak dituliskan kala itu

Hal tersebut terus mengalami perubahan bahkan hingga pada akhirnya aku ditanya oleh orang tua “Ambil jurusan apa nak? Guru saja nak. Kamu kan paling tidak sudah punya bekalnya karena sering bantuin bapak ibuk.” 

“Teknik buk. Gajinya besar dan prospeknya bagus, aku mendengarnya dari kakak tingkat”

“Kenapa ndak kesehatan apa pendidikan saja to nak?” 

Tanpa jawaban aku berlalu dari hadapan ibuk

Beberapa bulan kemudian aku nekat mendaftar ke salah satu PTK(perguruan tinggi kedinasan) dengan dalih supaya kerjanya cepat dan pendidikan gratis. Raut muka ibuk jelas terlihat masam tapi karena nalurinya sebagai ibuk pengayom untuk anaknya beliau tetap tersenyum sumringah. “Nggak  papa nak, besok tes ibuk yang nganter”. Setelah beberapa bulan kemudian aku dinyatakan tidak lolos. Bukan hal yang mengagetkan tapi cukup membuat patah hati mau ngambil apa, jujur masih linglung banget mau jadi apa padahal udah masa-masa genting. Temanku kebanyakan sudah mempunyai “cadangan” tempat kuliah, tapi aku kekeh nggak mau kalo nggak negri alasan klasik sih karena nggak pengen membebani orang tua. Akhirnya aku tetap menyusun rencanaku mengambil teknologi pangan atau sastra dan pilihan lain yaitu Ilmu Keperawatan andai saja aku tidak bisa mengikuti jalur SNMPTN UNDANGAN.

Pada waktunya tiba dan saat pengumuman namaku tak tercantum di daftar siswa yang berhak mengikuti jalur SNMPTN UNDANGAN. IPB dan UI ku kubur dalam-dalam , karena galau juga akhirnya aku kekeh Ilmu Keperawatan UNDIP “HARUS DITERIMA”, ibuk tersenyum sumringah kali ini tanpa gurat sendu di matanya berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Kalau nasib belum jodoh*ehh maksudnya kalau nasib belum berpihak, aku tidak di terima di Ilmu Keperawatan UNDIP lewat SNMPTN tulis, namun aku kekeh harus diterima apalagi ibuk memberiku restu mencoba jalur UM, test di Semarang saat puasa. Subhanallah aku dan keluarga tetap menjalankannya sampai waktu berbuka puasa.

Nikmat itu datang ketika akhirnya aku DITERIMA, masalah lagi muncul ketika aku sudah terlanjur melunasi semua pembayaran di salah satu politeknik di Surakarta, ibuk dengan lembut menenangkanku “nggak masalah nduk, sekarang kamu milih di semarang opo solo itu pilihanmu. Masalah uang bisa di cari, Ibuk udah sengaja nabung buat kamu.” Subhanallah “Aku mantap tetep Semarang buk” aku tahu uang sebanyak itu cukup berat bagi keluarga kami yang pas-pasan tetapi melihat semangat ibuk aku menjadi terpecut maju terus.

Flash back cukup. Now>>

Nah, setelah aku tercebur di jurusan yang dulunya aku remehkan, mati-matian dulu aku menolak jurusan ini dengan dalih gajinya tak seberapa sekarang aku mencintainya bahkan merasa beruntung memilih jurusan ini. Aku sadar ketika aku menjadi insinyur maka apakah akan ada banyak waktu untuk mengurus keluargaku? Mendampingi anak-anakku dan mendidiknya? Atau aku akan sama sibuknya dengan suamiku? Obrolan senja itu mengenai “keluarga, suami, anak, pekerjaan” dengan ibuk amatlah berharga.

Bahkan banyak orang nyeletuk  “kenapa nggak dokter? Nanggung kalo cuma perawat.” Atau “perawat gajinya dikit kan?” pertanyaan seperti itu sudah menjadi santapanku dan biasanya hanya ku jawab “Karena aku memilihnya, Allah yang melapangkan aku menjadi bagian profesi ini”, sungguh banyak hal yang ingin ku katakan ku urungkan.

Aku memilih keperawatan bermula ketika beranjak ke tingkat 12 SMA, salah seorang tetanggaku menitipkan pesan “Nduk, kuliah dokter, perawat atau bidan saja. Biar kalau mau berobat dekat, murah apalagi baru sedikit tenaga medis di desa ini.” Yah, itu salah satu motivasiku, aku ingin membantu mereka setidaknya orang yang dulu turut andil menjagakanku ketika aku di tinggal kedua orangtuaku mengajar. Lalu perkataan ibuk yang bertanya “Insinyur banyak kerja di lapangan nak, opo kamu kuat?” entahlah fisikku memang lemah tidak ada alasan yang tepat untuk ku lontarkan.

Enam bulan aku kuliah di Ilmu Keperawatan memberiku banyak arti, mereka sungguh seperti keluargaku dari temanku kos ataupun temanku kuliah. Religiusnya subhanallah sholat saling mengajak, kajian rutin dan banyak hal mengenai kegiatan keagamaan bahkan kakak asuhku yang setiap kali risau menggelayuti hatiku maka ia akan mendengarkan dan memberiku nasehat. Ibuk amat bahagia aku disana, lingkungan yang dulu di khawatirkanya karena aku berpisah jauh baru pertama kali ini sekarang sudah menenangkannya.

Setidaknya dari apa yang aku pelajari dapat aku terapkan untuk banyak orang, merawat orang tuaku di masa senjanya, membantu perawatan di desaku yang notabennya kekurangan tenaga medis. Harapan sederhana itulah yang membuatku mantap melangkah di jurusan ini.

You Might Also Like

6 comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. kakak ceritanya sama, aku direima di UNDIP jga yhn ini......, kalo aku kadang malah ada yg bilang kenapa gak D3 perawat aja? kan diarahkan udah kerja( bnyk prakteknya),knpa kalo cuma jdi perawat gak di sana? sekolah cuma 3 thn .
    Aku si mengabaikanna karena aku yakin InsyaAllah ini jalan terbaik dari Allah....

    ReplyDelete
  4. alhamdulillah :) iya benar pasti ada jalan yang paling baik yg di pilihkan Allah untuk kita
    salam kenal

    ReplyDelete

Give your respons with leaving comment