Ketika Aku Ingin Berhenti Menulis
7:47 AM
Tulisan
hanyalah upayaku untuk membuat dia tahu bahwa aku masih menyimpan kenangan
bersamanya. Membuat masa lalu tetap hidup, membuat semuanya seakan masih
terjadi. Memangkas rindu saat tidak ada pilihan kata yang tepat untuk
disampaikan. Perasaan takut untuk terjebak pada momen yang sama. Aku hanya
ingin sekedar mengingat, ingin mengulanginya. Tetapi, aku tidak ingin
mengakhiri dengan cerita yang sama.
Bertahun
aku melakukan itu supaya memoriku tetap terjaga. Supaya kamu bisa membuka
catatanku setiap saat. Supaya kita bisa membuat hubungan yang hampir retak ini
kembali seperti sediakala. Paling tidak dia tahu bahwa dia pernah bersama
dinginnya pagi mengingatkan aku untuk mengurangi seduhan kopi penuh kafein yang
melewati kerongkonganku sebelum kami bertemu.
Paling
tidak aku masih mengingat bagaimana dia membutuhkan teman untuk bersandar. Aku tahu
bukan hanya aku pundak sandarannya, dia yang duduk di bangku paling pojok dekat
jendela sekolah juga sandarannya. Tidak ada yang tidak diberdayakan, selalu ada
kisah menarik untuk setia aku tunggu. Kisah setia dan perasaan untuk perempuan
yang berdiri di belakang pintu kelas sebelah. Tidak ada yang di buat iri,
justru aku selalu bahagia. Ada yang percaya. Ada yang menitipkan kisahnya untuk
aku bantu buatkan alur. Namun, hatinya sudah berubah. Dia mulai memilih dan
menemukan bahu baru untuk bersandar.
Kisahnya
sudah mulai di tutup. Aku dibiarkan sendiri. Berjalan untuk memilih tulisan
sebagai sandaran baruku. Aku mulai mebual. Menuangkan perasaan, pemikiran dan
aku salah. Dia, aku sebut pada ceritaku. Dia tidak menyukainya. Tidak dikatakannya
perasaan itu, dia memilih bertanya lalu pergi. Aku tidak perlu tahu. Hanya saja,
aku ingin dia kembali. Menjadikan aku sandaran kisah-kisahnya. Menjadikan aku
orang penting untuk diingat.
Aku
menjadi takut tulisan ini akan menjelma dan menjadi sebuah rekaman bagai radio
yang diperdengarkan padanya. Aku hanya takut dia salah mengartikan tulisanku
hanya karena aku tak sepandai dia dalam membuat orang jatuh hati untuk
bertahan. Menunggu bahkan memilih tidak melupakan meskipun sudah ditinggalkan. Aku
takut tulisan ini menjelma lagu yang didengarnya lewat saluaran pengeras suara
di dekatnya. Aku terlalu takut untuk menulis.
Pada
akhirnya aku memutuskan berhenti menulis. Berhenti untuk membuatnya tahu bahwa
tokoh dalam tulisanku ruhnya dia. Aku tidak mampu berhenti, aku masih membuat
tulisan dalam draft yang mulai memenuhi memori laptopku, beradu tempat dengan
dfat tugas yang satu persatu aku rapikan.
Nyatanya
aku lebih suka fajar supaya aku tidak sama dengan dia yang menyukai senja. Aku belajar
menyukai pagi untuk membuatku tidak terbiasa menyukai tengah hari karena dia
masih terjaga. Menyukai tempat yang tidak difikirkannya untuk tinggal supaya
aku tidak perlu terbiasa menjalankan apa yang dijalaninya. Aku hanya berusaha
melawan,melepas satu-persatu supaya tak tersisa kecewa.
Jika
Tuhan dengan baik hati mempertemukan kami—aku dan dia dalam satu frekuensi—di
tempat yang sama, aku ingin membuatnya tahu bahwa aku tidak berhenti menulis. Aku
hanya membuat apa yang tidak ingin di buatnya. Melawan rasa, membuatkan diriku
sendiri tempat dan menunjukkan letakku di dalam kehidupannya.
Sebuah
pertemanan butuh frekuensi, butuh hati bersih untuk tidak berprasangka, tidak
mengadu nasib tentang enak-tidak dirasakan dalam sikap. Aku pikir dia hanya
butuh tahu bahwa tidak ada yang benar-benar berhenti, menghentikan tulisan
dengan kisah siapapun dalam blog ini. Terimakasih sudah memberiku warna untuk
dilihat dan dirasakan

















0 comments
Give your respons with leaving comment