Mau kemana? Mau jadi apa?
10:35 PM
Tiap-tiap
dari kita mulai membuat plan. One step
closer after we are bachelor. Tapi, mbak sardjanah ini masih bingung mau
kemana, soalnya sarjana keperawatan nggak kayak sarjana jurusan lain yang bisa
caw pilih jadi apa dan ngelamar kerjaan dimana saja. Oke, beberapa teman aku
memang ada yang sekarang udah kerja dan nggak sejalur sama jurusan ini. Semua
itu balik lagi sebagai pilihan jalan hidup mereka, nggak seharusnya bisa judge macam-macam. But, meskipun beberapa teman yang lain bakal menanyai mereka itu
dengan pertanyaan “Lah kenapa dulu kuliah di keperawatan? Kenapa dulu nggak
kuliah ini dan itu.” Sekarang aku sendiri sadar, kalau semua hal itu adalah
keputusan dia dan yang menjalani kan teman kita bukan kita—kenapa jadi repot di
elo?.
Setelah
sidang akhir maka kerepotan mengurus berkas syarat wisuda nggak ada apa-apanya
dibanding repot setelah ini mau kemana? YES! Karena tanpa profesi ners, kita
nggak bisa pegang pasien. Pilihannya mau kerja tapi nggak ke pasien, lanjut
pendidikan master, atau lanjut pendidikan profesi ners—lamanya satu tahun dan
di rumahsakit. Entah ini perasaan aku sendiri atau beberapa teman juga
mengalami but, in my opinion rumah sakit itu nggak enak dan nggak pengen
praktik di rumah sakit. Waktu akademik S1, di univ aku memang ada praktik di
rumahsakit—tapi nggak semua univ pakai kurikulum yang sama, beberapa baru menerjukan
mahasiswa ke rumahsakit saat profesi. Setiap kali selesai stase yang berarti
kita bakal ke kampus lagi dan mendengarkan ceramah, tugas kelompok lalu
presentasi membuat kita sedikit lebih bahagia. Setiap dosen masuk kelas dan ada
yang tanya “Disini yang dari awal pengen ambil keperawatan siapa?” atau “Gimana
praktik satu bulan kemarin?”atau “Disini yang pengen jadi perawat siapa?”
percaya atau enggak, yang ngangkat tangan bisa dihitung pake jari seperti semboyan
dua anak cukup sekelas yang isinya 60 orang. Lalu dosen akan memberi pertanyaan
berikutnya “kalian mau jadi apa
sebenernya nanti?” sekelas makin hening. Nah loh, bingung juga kan ya.
Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya diulang dalam kepalaku untuk membuat
keputusan kedepannya. Plan yang nggak terlalu matang sejak awal membuatku cukup
bingung membuat keputusan. Setelah membuat SWOT akhirnya aku memutuskan
pendidikan profesi ners selama 1 tahun—yang berarti udah nggak kenal tanggal
merah. Kalau kalian juga penasaran kenapa aku pilih pendidikan profesi ners
karena itu pilihan aku sendiri MURNI setelah membuat SWOT segala kemungkinan
yang akan aku hadapi kedepan.
Jadi,
buat para calon sarjana yang sedang memperjuangkan diri kalian memparipurnakan
diri maka persiapkan mulai saat ini juga. Pertimbangkan apa-apa yang menurut
kalian emergency. Bagus jika kalian sudah mempersiapkan sejak awal kuliah,
sudah plan A, B, C. Tapi, sebagai manusia biasa dan mahasiswa biasa bukan
motivator handal seperti aku maka buatlah SWOT setiap decision, jadi kalian bisa melihat peta jika kalian memilih suatu
jalan hidup karena tidak menutup kemungkinan profesi itu akan kalian tekuni. Kalaupun
ditengah perjalanan merasa ini cukup berat dan banyak kendala yang harus di
selesaikan maka ingatlah semua itu adalah weakness
dari pilihan kalian, cukup jalani dan selesaikan sebaik mungkin supaya Allah
yang bantu.
Lalu,
pertanyaan saat ini bagaimana dengan aku yang sebentar lagi juga lulus profesi—masih
setengah tahun lagi sih. Tetapi dalam hitungan aku akan wisuda—amin, kalau
lancar. Maka, mulai saat ini aku sudah memikirkan mau jadi apa? Mau kemana? Karena
sangat banyak orang yang mulai menanyakan. Bukan kepo loh, ini lebih karena
mereka care bahwa seharusnya aku sudah punya rancangan buat itu. Melihat situasi
menjadi perawat praktisi di rumah sakit pusat selama setengah tahun kemarin cukup
membuka mataku bahwa sebenarnya aku juga ingin terjun di lapangan,
berkomunikasi dengan pasien, mendengarkan cerita dan curhatan yang kadang tidak
sebentar. Melihat perkembangan kondisi kesehatan dan teguran untuk selalu
tersenyum apapun keadaan kita karena mereka butuh dihibur. Seorang akademisi
juga cukup menarik, diskusi dengan orang lain, menyampaikan pengetahuan yang
kita miliki dan belajar dari orang lain mengenai keilmuan yang satu frekuensi. Yah,
pasti semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan untuk kedepannya sepertinya
menunggu rido Allah. Jalani saja dulu sebaik-baiknya.

















0 comments
Give your respons with leaving comment