Skripsi Tahun Lalu
3:45 PM
Pengen nggak segera pake toga?
Skripsi sebagai tugas akhir, sebagai syarat
sarjana. Gue mau cerita tentang proses kripsi gue yang nggak sebentar. Gue
semester 7 di tingkat akhir perkuliahan. Gue udah seneng banget akhirnya mau
skripsi terus lulus. Gue nggak mikir nanti gimana, dan apa iya sih sulit?
Apalagi gue baca blog A**t tentang skripshit. Gue sih santai aja soalnya belum ngalamin.
Nah, bulan oktober saat gue ribet banget mau praktik klinik ( iya, gue kan
perawat ya, dan ada jadwal praktik klinik di RSJ seminggu terus di yayasan
untuk gangguan mental gitu juga seminggu—gue lupa). Tiba-tiba grup angkatan gue
rame yang intinya “DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI UDAH DIBAGI” jrengggg hati gue
deg-deg an kayak jatuh cinta, bahkan nih ya kalau loe hitung detak jantung gue
ini sangat cepat dan kuat. Akhirnya gua menelusuri nama gua dan melihat ke arah
samping kolom nama gue yang isinya nama dosen pembimbing (dosbing) yang
ternyata seorang ibu-ibu. Dosbing gue ini adalah dosen yang pertama kali
mewajibkan setiap tugas paper/makalah kita disertakan surat pernyataan tidak
melakukan plagiarisme. Panas dingin dong ya, karena emang jarang banget
berinteraksi secara personal. Tahap kedua yang gue lakukan adalah melihat siapa
temen-temen satu bimbingan gue. Ternyata ada 3 lainnya dan perempuan semua, oke
welcome girl band!. Akhirnya setelah pengumuman itu kita lupa kalau kita
harusnya udah mulai menghubungi dosbing tapi, praktik klinik ini terlalu
menarik dimana gue dapat ruangan UPIP—ICU nya orang dengan gangguan jiwa dan sekaligus
ruangan untuk ketergantungan obat(NARKOBA). Seru banget pokonya, nanti kalau
kalian pengen tau, gue ceritain deh. Nah, bulan oktober berlalu dan datanglah
bulan November. Gue berinisiatif menghubungi dosbing, soalnya tinggal kuliah
biasa—kuliah rasa SMA yang masuknya jam 8 pulang tak terhingga. Jangan mimpi
kuliah itu bisa masuk jam 10 terus
pulang, masuk lagi jam 2 siang, jurusan gue nggak begitu sayangnya.
Akhirnya di jam istirahat jam 11.30 an kita menemui beliau. Dibuka dengan
perkenalan dan dilanjutkan “Apa tema yang kalian inginkan?” kita jawab sesuai
waktu mengajukan tema di awal semester 7 kemarin. Selanjutnya beliau ingin kita
mengajukan judul maksimal satu minggu dari pertemuan itu.
Hari-hari berlalu dan gue udah naruh judul dan
udah dicoret semua 3 judul itu. Lalu gue kembali meletakkan 7 judul baru dengan
2 jurnal yang gue lampirkan. Gue awalnya udah stag banget belum apa-apa udah
lelah sama pikiran negative gue sendiri. Muncullah pertanyaan “gue salah apa
sih kok belum di acc judulnya? Gue mesti gimana ini? Gue harus bikin judul
apa?” yah semacam itulah. Setelah dua minggu berlalu dan datanglah bulan
Desember. Yap, udah mau ganti tahun dan gue masih belum nemu judul coy. Itupun
gue harus jernih berpikir karena gue masih kuliah, yang sks-nya itu nggak
sedikit. Coba bayangin disaat temen-temen loe jurusan lain udah tinggal
skripsian doang dan loe masih harus kuliah dan mau KKN tak lupa pula skripsi.
Bukan gue nya ngulang atau lelet karena nggak lulus mata kuliah ya, ini karena
sistem jurusan gue emang gitu, sengebut apapun loe ya loe harus ikutin sistem
itu. Terus pas gue ngecek meja beliau ada 2 judul yang nggak dicoret,
Alhamdulillah. Akhirnya besoknya gue sms beliau minta sharing, dan akhirnya
disepakati suatu tema tentang gerontik. Apa itu gerontik? Loe search di google
aja. Nah, setelah beberapa kali ketemu dan naruh revisian gue diperbolehkan
untuk KKN dengan catatan membuat bab 2 dan 3. Padahal bab 1 gue masih revisi
dan itu banyak. Gue sampai bab 3 akhir pun masih revisi latar belakang coy,
sungguh memang itu kenyataan entah ada data yang kurang, data yang over dan
nggak perlu, typo—ini salah gue sih. Oke uniknya lagi sama dosbing gue ini
pertama yang harus gue lakuin adalah membuat latar belakang dan kerangka teori.
Dua lembar yang amat sangat menguras pikiran gue. Latar belakang yang awalnya
satu lembar itu kini jadi 8 lembar, hebat kan? Iya, dulu gue aja nggak percaya
kenapa orang bisa menulis latar belakang sampai berlembar-lembar dan sekarang
gue ngerti kenapa. Dicoret semua? Gue nggak pernah sih tapi ada catatan yang
cukup besar disana intinya latar belakang gue masih dangkal dan itu nggak
kepake semua. Gue merombak dan akhirnya gue mulai memahami pemikiran dosbing
gue dan apa yang gue mau. Mulai bab 2 dan 3 gue aman sentosa hingga akhirnya gue
yang vakum saat KKN itu bisa seminar proposal bulan Maret. Jadi sekitar sebulan
setelah gue menemukan ritme menulis dan alur pikir yang pas. Gue sampai
mendekam di perpustakaan UGM, diantar jemput temen gue yang di jogja untuk ke
stasiun-perpus UGM. Baik banget dia, sampe gue pernah nginep di kosannya.
Karena kebetulan referensi yang gue cari itu di UGM dan diakses secara online
di lingkungan perpustakaan itu. Itupun gue dibantu petugas perpustakaanya yang
baik hati ikut bingung.
Percayalah orang yang loe lihat jalannya mudah
lancar kayak jalan tol itu effort nya mungkin lebih besar dari pada loe. Gue
emang mempressure diri gue bahwa gue nggak bakal bayar spp semester 9. Dimana
saat gue sempro itu baru 15an orang yang sempro. Gue rajin-rajin berdoa, cerita
orang tua, pokoknya gue tampak seperti orang ambis yang pengen cepet skripsi
ini kelar. Tau nggak? Semester 8 gue pun masih ada kuliah dan itu Bahasa
inggris yang 4 sks coy, elektif 3 sks terus
apa ya gue lupa intinya gue itu hampir nggak bisa main tapi rajin nonton drama
korea yang bikin temn-temen gue heran. Gue rajin download banyak-banyak jurnal
dikampus soalnya di buku cetak nggak ada di kampus gue, dan amat sangat susah
gue temukan, minta e book yang setema sama skripsi gue, intinya waktu gue habis
buat baca jurnal. Pernah temen gue bilang “lah loe sih pilih judul yang susah
bahannya.” Menurut gue bahannya itu mudah Cuma loe butuh usaha ekstra soalnya
masih dikit di Indonesia. Gue kadang nggak mandi kalau udah janjian sama
dosbing dan bahan gue belum siap (jangan dicontoh ya, tapi gue rapid an nggak
bau kok), dosbing gue disiplin waktu. Beliau sangat mudah ditemui tapi loe
harus konsisten, kalau janjian ya datang dan siap dengan penjelasan apa yang
loe tulis. Gue beberapa kali revisi di akhir karena gue mengulang kata-kata
yang sama, mungkin karena dosen gue orang kualitatif jadi detail banget suruh
merevisi dan terus mengecek presentasi apakah ada palgiarisme. Well, akhirnya
gue ambil data yang super singkat sekitar seminggu. Gue akhir Mei baru selesai
uji validitas dan reliabilitas, 40 responden selama seminggu. Gue ngerasa
santai dan malas lebih tepatnya. Tetapi semenjak dosbing gue Tanya “target
wisuda kapan?” gue kembali terhenyak dan gue semangat buat ambil data responden
dimana itu semua lansia 117 orang yang harus gue bacain soalnya 98%
penglihatannya nggak jelas. Waktu gue ambil data adalah bulan Ramadhan minggu
1. Alhamdulillah gue survive dengan ambisi gue, dan gue setia datang ke panti
tiap jam 3 sore sampai hampir magrib dan terakhir kali gue ambil data dari jam
7 pagi sampai jam 4 sore non stop—kecuali sholat. Semua itu terbayar ketika gue
menyelesaikan di seminar hasil bulan juli 2016.
Lebih dari itu, gue belajar banyak hal. Gue
menikmati dan menyukai skripsi yang gue tulis. Gue menyukai membaca hal baru
yang membuat gue sadar bahwa ilmu gue sedikit sekali. Eyang-eyang yang ikut
mendoakan gue cepet selesai dan meminta gue balik kesana—tapi gue belum bisa
kesana lagi. Alhamdulillah karya ini sudah terjilid indah dan membekas di hari
gue.

















0 comments
Give your respons with leaving comment