Biarkan Ia Berlayar
1:41 AM
Bukankah,
banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"jadi, jawaban apa yang harus diberikan?"
Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"
Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"kau menungguku? sejak kapan?"
Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"akan kau tambatkan di mana?"
Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain
Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimanalah akan membacanya
Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia—Tere Liye
banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"jadi, jawaban apa yang harus diberikan?"
Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"
Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"kau menungguku? sejak kapan?"
Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"akan kau tambatkan di mana?"
Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain
Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimanalah akan membacanya
Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia—Tere Liye
Membaca
satu persatu dan cermati kalimat- kaimat tersebut. Berfikirlah sejenak, apakah
kita juga merasakan hal yang sama? Kalau iya berarti aku tak sendiri. Sama
halnya seperti jawaban yang ada di kalimat-kalimat itu juga. Beberapa waktu
kemudian ternyata bang tere masih memposting hal yang hampir sama. Ini dia>>
Pertanyaan:
"Tapi Bang, saya mau bilang, saya mau tahu apakah dia suka dengan saya
atau tidak?"
Jawaban: Punya perasaan ke orang lain itu bukan kayak (maaf) mau buang air besar, yang kalau nggak segera, bisa puf di celana. Juga tidak sama kayak berobat sakit jantung, yang jika tidak bergegas bisa berbahaya sekali. Atau kayak UN, kalau telat pengawasnya nggak nyuruh masuk ikut ujian.
Jawaban: Punya perasaan ke orang lain itu bukan kayak (maaf) mau buang air besar, yang kalau nggak segera, bisa puf di celana. Juga tidak sama kayak berobat sakit jantung, yang jika tidak bergegas bisa berbahaya sekali. Atau kayak UN, kalau telat pengawasnya nggak nyuruh masuk ikut ujian.
Berapa
lama sih kita menyimpan perasaan
itu? Kalau cuma hitungan satu, dua tahun, atau bulan, apalagi baru minggu,
hari--lantas sudah rusuh pengin bilang, itu sih masih sebentar. Biarkan waktu
membuktikan apakah perasaan itu membesar, atau sebaliknya terlupakan. Bukan
sebaliknya buru2 pengin bilang, yang kemudian mau apa? Dan jelas, dengan
disimpan, dipikirkan berkali2, sambil terus menyibukkan diri, kita akan
terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan—Tere Liye
Setelah saya baca, saya berfikir dan mulai mencernanya. Hal yang
sama persis beberapa tahun yang lalu, dan justru orang yang saya sukai
mengungkapkannnya terlebih dahulu. Tapi, waktu amat baik berpihak padaku, Tuhan
lebih dahulu menjauhkan perasaan itu. Perasaan yang cepat terlupakan ternyata
bahwa saya pernah memikirkan hal itu. Pada akhirnya, pertemanan biasalah yang
kami jalani. Perasaan manusia mudah saja di bolak balikkan oleh-Nya. Hikmah dan
hidayah itu muncul di saat yang tepat, di saat kita memang benar-benar mau
belajar menyambut hidayah itu.
Terkadang kita terlalu memikirkan hal yang mungkin tidak di
fikirkannya. Itu wajar, tetapi belajar bersabar agar Tuhan membantu memberikan
jawaban itu jauh lebih sukar dari pada sekedar ingin mendapat jawaban
secepatnya.

















0 comments
Give your respons with leaving comment