Coba baca, ada yang terlewatkan

1:23 AM



Kita bertemu saat matahari mulai setinggi tongkat, warnanya terang agak orange. Aku mengenalmu tapi bukan kamu, aku menatapmu dengan hangat dank au balas tatapan luka atau tatapan benci?. Kalau aku menulisnya berlebihan maafkanlah, karena ibarat hujan turun kadang orang membencinya bahkan ada yang rela menunggunya.
Apa egomu terluka atau kau yang membenci kehadiranku. Jawabannya itu pada setiap bahasa tubuhmu, ketika sebuah pengharapan dan berujung pengharapan saja maka aku akan tetap berharap, sekalipun pengharapan itu menyakitkan. Kau tau rasanya menunggu? Kau tau rasanya diabaikan? Kau tau kan rasanya di singkirkan? Iya, seseorang masih merelakan senyumnya yang terlalu pahit untuk di persembahkan padamu. Ketika aku memulai dengan kenapa? Kau tak mau tau
Egomu terluka karena kau merasa tidak teristimewa? Salah! Egomu terluka karena kau merasa aku tak bisa disingkirkan? Entahlah banyak lubang yang tertutup genangan air dan aku tidak bisa membacanya. Rasanya sama, aku membencimu karena kau selalu berubah. Ketika egomu terluka katakanlah. Atau mendekatlah dan berikan senyum pahitmu agar aku tau bagaimana rasanya.
Aku tidak berharap ada rasa suka atau cinta di antara ruang waktu tapi sebuah kekerabatan, bahwa kita tidak melukai orang lain.

You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment