Stasiun Rindu-Malang H1

8:20 AM


Senja semakin gelap, langit tak seramah beberapa menit yang lalu warnanya masih merah. Aku putuskan mengambil album kenangan di laci paling bawah almari dekat TV. Ada foto teman-temanku, ayah, ibu dan aku yang tersenyum lebih ikhlas di banding foto-fotoku sekarang yang akupun terlalu takut kalau ikhlas itu telah meninggalkanku dan terbaca dari bibirku saat aku tersenyum. Ah sudahlah masalah ikhlas biar aku yang mengurusnya. Tapi, sejenak aku rindu malang, kabupaten yang nyaman dan sangat ku rindukan sore ini. Apa kabar malang?

Setiap libur menjelang malam itu, pukul 9 malam aku harus berkemas, memasukkan beberapa potong pakaian bersama ayah dan ibu ke dalam tas berukuran sedang bahkan terlalu kecil untuk bepergian satu keluarga selama beberapa hari. Setelah itu kami wudhu lalu tidur untuk sekedar merebahkan badan sambil menanti pukul 1 pagi. Sepagi ini kami sudah bersiap untuk menuju stasiun kereta api yang cukup besar di kota Solo, karena hanya di sana kereta itu akan berhenti dan menaikkan penumpang. Meskipun mataku masih sangat ngantuk terpaksa tubuhku tetap bergerak, berganti baju lalu menaiki motor menuju stasiun Solo Balapan supaya tak tertinggal kereta yang hendak kami naiki, ayah sudah bersiap dan ibu masih sabar menungguiku di depan pintu sambil sesekali memekikkan namaku untuk segera berangkat.
Hawa dingin tak lagi terasa di banding lengangnya jalanan yang hanya di isi penjual hik dan pemuda yang masih asik minum kopi dan tertawa sambil terus berbincang, syukurlah stasiun sedikit lagi.
Sesampainya disana tiket ternyata habis dan yang tersisa hanyalah tiket kereta api ekonomi, bagiku dan orang tuaku bukan masalah hanya saja kami pasti tak akan mendapatkan tempat duduk dan paling tidak harus menunggu hingga hampir Stasiun Kertosono supaya kami semua benar-benar bisa duduk sambil terlelap. Ah, bayang-bayang itu semoga hanya kebiasaan tapi berbeda untuk pagi ini, harapku. Bangku tempat menunggu itu penuh, orang tertidur dan barang-barang bawaan yang memenuhi sekitarnya memaksa kami duduk di lantai sambil sesekali terkantuk-kantuk menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Sejam yang lalu kami sudah menanti dan suara khas alarm kereta datang akhirnya berdenting, bahagianya.
“Nduk, ayo keretane wis teko gek ndang siap-siap(nak,keretanya sudah datang cepat berkemas) .” suara ibu membangunkanku. Akhirnya kami berebut naik, berharap ada bangku kosong di dalam kereta yang sepertinya kami bisa berdiri di sana saya sudah bersyukur rasanya. Pagi itu mungkin keberuntunganku, seorang bapak-bapak mempersilahkanku untuk duduk di bangkunya “nduk, silahkan duduk. Bapak sebentar lagi mau turun.” akhirnya aku duduk di bangku itu, meskipun di sampingku ayah dan ibu masih berdiri bergelantungan besi yang membentang—difungsikan untuk menaruh barang. Mungkin bapak itu kasihan padaku yang masih agak kecil (kelas 2 SMP kecil? Ah sudahlah mungkin keberuntunganku) dan Allah memang amat baik pagi ini, setelah melewati dua stasiun akhirnya kedua orangtuaku bisa duduk di samping dan depanku tapi jauh di sana beberapa kursi dari tempatku duduk. Ah tak masalah. Akhirnya kami sama-sama terlelap menikmati pagi yang dingin.
Pohon dan sawah itu seakan mengejarku, dari kaca jendela aku tau ini sudah di Nganjuk. Seorang perempuan tua duduk di sampingku sambil membawa tas. Kulitnya seperti bekas terbakar tapi sepertinya dia tau, aku sedang mengamatinya diam-diam, menoleh lalu tersenyum padaku. Terlalu banyak hal yang ku pelajari di kereta ini. Kereta ekonomi yang kebanyakan di benci karena sesak, karena tidak aman, karena penjual yang membangunkan kita meskipun kita tidur, musisi jalanan yang tak henti-hentinya bernyanyi untuk kita, sudah cukup barangkali kau punya cerita lebih banyak. Aku memilih memejamkan mata sepanjang perjalanan sambil menikmati semuanya dalam bayangku.
Malang
 Kabupaten malang. Stasiun kepanjen, pukul 10.00, hawanya hangat tapi tidak panas. Sesampainya di tempat, aku di gandeng ayah sambil menggotong tas berisi pakaian kami. Ibu tersenyum sambil berusaha menerobos kerumunan orang yang juga berebut naik dan turun dari kereta api. Hah, ibu sibuk memencet nomor di telfon genggamnya, benar ibu menghubungi saudaraku yang sekarang berada di seberang rel kereta sambil memanggil kami. Senangnya, tapi aku benar-benar tak bisa menentukan arah, utara ku panggil barat, lalu aku menyerah, lebih memeilih mengikuti ayah dan ibu menemui saudaraku sambil terus melihat pergerakan matahari.
Saudaraku tampak sumringah sambil terus bertanya bagaimana kabar keluargaku di Klaten, bagaimana kabarmu nduk? Sudah liburkah? Bagaimana hasil rapot kemarin? Terlalu banyak yang harus ku jawab sampai aku hanya mendengarkan dan sesekali tersenyum lalu aku jawab sesekali pertanyaan itu. Di sebrang jalan ada pasar yang cukup ramai tetapi ayah memilih warung kecil yang plakat depannya bertuliskan “mie ayam, bakso, dan soto”, aku tau ayah sangat suka makanan itu dan benar, tiba-tiba ayah mengajak kami untuk makan soto terlebih dahulu. Makan mie gelas dan air mineral hampir 6 jam itu cukup menguras tenaga ternyata.
Setelah semuanya selesai makan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan saudaraku itu membawa kami menuju suatu tempat dengan menyewakan tukang ojek, beruntung aku mendapat ojek paling—bisa dibilang jelek—pas untuk medan yang terjal dan rusak pada beberapa bagian, sepertinya jalan ini lama tak terjamah uluran DPU (Dinas Pekerjaan Umum) atau memang kontur tanah yang tinggi rendah sehingga cepat rusak. Tukang ojek itu menunjukiku stadion Kanjuruan, rumah sakit, kantor DPR, kantor Bupati dan beberapa tempat pemerintahan yang sebagian masih dalam proses pembangunan. Kota yang cukup sepi dibanding Solo. Mungkin karena masih pagi. Akhirnya kami melewati sebuah bangunan yang cukup besar dan seketika bapak tukang ojek berkata padaku “itu stadion kanjuruan, sampean udu wong kene rek(kamu bukan orang sini rek-arek, panggilan untuk remaja-)?” “oh, wah bagus ya pak, saya asli Klaten pak. Kalau nggak tau Klaten deket Solo pak.” kami bercakap sepanjang perjalanan, namun aku lupa tak menanyai namanya. Akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah. Aku turun namun dengan perasaan tak karuan, tempat yang sederhana. Sungguh sederhana.
Seorang sudah menyambut di depan pintu, ia yang berdiri usianya tak lagi muda, anak dan cucunya juga ikut menyambut kami. Orang-orang baru, tapi senyum itu tak membuatku takut kalau aku akan sulit bergaul disini. Mereka terlalu ramah. Akhirnya aku bersalaman dan masuk ke rumah itu, ayah dan ibu masih asyik melanjutkan obrolan di teras rumah. Akhirnya aku sendirian memasukkan barang yang kami bawa di bantu saudaraku, sebut saja om X. nenek kembali mengetuk pintu, memintaku bergabung dengan yang lain—kamar yang sedang ditempati kami, kamar ini khusus di sediakan untuk kami, selama kami di sini—betapa baik hati mereka.
Ayah dan ibu sudah tampak akrab dan terbiasa disini, lingkungan baru yang nyaman. Tak lama nenek kembali sambil membawa nampan berisi gelas – gelas yang terisi, entahlah aku tak bisa menebaknya yang pasti bukan teh seperti kebiasaana kami ketika kami di Klaten menjamu tamu. Setelah dipersilahkan om X, aku menyedunya pertama kali. Hawa disini cukup dingin meskipun cahaya matahari masuk di sela jendela yang terbuka di depan rumah. Rasa ini aku tak bisa menebaknya, akhirnya aku mebuka pertanyaan “ nek, ini apa ya?” akhirnya perhatian berfokus padaku sambil tersenyum om X menjelaskn padaku “itu kopi di campur susu”, aku sedikit tertegun. Aku sering meminum susu kopi, tapi ini sangat berbeda rasanya. Kopi terlalu lembut dan susu yang kental tak tertutupi rasa kopi, aduhai campuran yang PAS. Akhirnya semua kembali ke aktivitas masing-masing dan nenek kembali kebelakang, katanya mau memasak dan membuatkan kopi untuk para pedagang di pasar.Aku memilih kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku yang terpotong tadi pagi.

You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment