Stasiun Rindu-Malang H2

8:43 AM


Malang hari ke-2


“Sepagi ini sudah ke pasar buk?” tanyaku pada ibu yang sedang mengintip lewat tirai kamar. “kau sudah bangun nduk, iya motor parkir di sebelah kamar kita” maklumlah kamar yang sedang ku tempati bersebelahan dengan tempat penitipan motor para pedangang pasar depan rumah nenek. Aku memilih membenahi selimut lalu tidur kembali.


“Nek, mau kemana? Masih pagi.” Sapaku pada nenek yang sedang membawa gelas kopi susu seperti yang di suguhkannya kemarin padaku. “ndek pasar tumbas sayur nggo masak, meh melok pye nduk?” begitu sahutnya semangat. Tidak ada salahnya untuk ikut tapi kenapa gelas-gelas itu ikut dibawanya, pertanyaan itu ku simpan hingga Aku memasuki pasar dan nenek menaruh gelas itu satu persatu untuk pedagang dan membeli satu dua buah sayuran. Ah penyaji kopi,
pantas banyak yang suka. Sangat cocok untuk hawa yang tak pernah bisa membuatku melepaskan jaket selama di sini.
Nenek lalu menggandengku, berlalu dari pedagang yang silih berganti meneriakkan barang dagangannya, sayang banyak kata yang tidak tercerna di kepalaku. Bahasa campur Madura dan khas Jawa Timur yang keras dan cepat terlalu lama diterjemahkan oleh otakku yang ternyata tak ada kamus Madura di sana. Aku mempercepat langkahkku.
Setiap malam tiba perempatan itu cukup ramai oleh pedagang tenda, bau sate tercium pekat tiap kali asap pembakaran itu membumbung tinggi. Pemuda dan laki – laki setengah tua desa berkumpul membagi celoteh atau sekedar duduk bersama sambil melepas lelah setelah seharian bekerja. Aku mengintip di balik tirai kamar sambil menyedu kopi susu yang dibuatkan nenek.
Hari berlalu terlalu cepat, dua hari disini seperti baru beberapa jam yang lalu Aku di sini, hari ke-3 di panjen—sebutan orang menyingkat nama kepanjen—Aku di bawa om X bersama Ayah dan Ibu menuju sebuah tempat yang jalannya tak lebih baik dari desa ini. Tapi, rumah-rumah berdiri megah, mobil mewah terparkir di garasi rumah sepi yang kami lewati. Seperti tak berpenduduk tapi masih ada sedikit nyala kehidupan, setelah jauh menempuh perjalanan sampailah kami pada sebuah rumah di dekat perkebunan tebu. Tebu-tebu ini khusus di tanam, sangat berbeda dengan tempat tinggalku tebu yang tubuh liar dan kerdil. Tebu di sini masa  panen, sehingga penuh truk pengangkut tebu dan jeraminya lalu lalang di depan rumah sekarang Aku singgah. Rumah ini baru selesai dibangun om X, bahkan beberapa bagian rumahnya masih dalam proses pengecat-an. Sedangkan istrinya sibuk menyiapkan masakan untuk kami, Ayah dan Ibu sibuk mengobrol di temani emak—begitu Aku menyebutnya.
Tante membawa nasi yang di campur jagung dan rasanya lebih gurih, ayam opor dan sayur-entahlah Aku juga tak sempat menanyakannya-ditambah kerupuk dan sambal. Selesai makan Aku menemani putra om X bermainan di ayunan sampir rumah. Rumah ini sederhana tapi minimalis dan cantik. Sambil menikati para petani tebu yang sibuk menebang tebu-tebu di depan rumah ini.
Ah rinduku pada stasiun ini. Akhirnya harus ku akhiri dengan diantarnya kami ke agen travel yang akan membawa kami pulang. Kota ini tak sesepi bayanganku, meskipun ini kabupaten, hawanya sejuk. Rindu akan selalu membawaku kembali pada Kabupaten ini. Arema.. nama itu gaungnya sampai ke pelosok-pelosok negeri para pecinta bola. Sampai jumpa… ah rindu itu masih hangat seperti abu, biarkan Aku menungguinya sampai benar-benar dingin dan tak ada kehangatan lagi disana. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Ah Nurul.. selalu suka semua tulisanmu =)
    Ini kok tumben banyak banget typo ya, sengaja atau gimana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mah. ah teman bloggerku yg kurindukan :)
      iya, sengaja belum ku edit, langsung upload soalnya malem2 keburu tidur belum sempat ngedit. :D

      Delete

Give your respons with leaving comment