Sesederhana Hati

1:05 AM






Tinggal di kota dengan suhu 23°C membuat perempuan dengan rabut tergerai sebahu dengan padanan baju tidur merasa lebih nyaman, di bandingkan tempat tinggalnya di kota asalnya yang bersuhu 20°C. Sambil terus menatap layar laptop yang menyala di depannya perempuan bernama Kumala menambahkan satu tab baru di mesin pencarian, mengetikkan salah satu akun social media yang Kumala punya, kemudian kembali mengetikkan beberapa kalimat untuk mengisi timelinenya, matanya bergerak cepat melihat berita pada timelinenya. Namun, matanya berhenti mencari dan menerka satu nama, nama yang tidak asing baginya, setidaknya Kumala sudah mengenalnya sejak 7tahun yang lalu. Dengan rasa penasaran, akun itu membimbingnya untuk melihat-lihat riwayat percakapan lelaki itu, beberapa percakapan dengan temannya mungkin tetapi ada satu nama yang tidak lagi asing baginya, teman remajanya. Kumala tau benar Liand sudah lama menyukai perempuan itu, tapi Kumala tidak berfikir jauh kalau sampai sekarangpun mereka masih menjalin hubungan baik, meskipun Kumala dan Liand juga masih berhubungan baik-setidaknya begitu bila di bandingkan beberapa tahun silam. Liand menyukai perempuan itu sejak mereka masih satu sekolah dulu.
Liand sudah lama berteman dengan Kumala, Liand sosok lelaki dengan perawakan tinggi, berkulit kuning langsat, dengan senyum tipis yang ramah, ditambah rambutnya yang sedikit ikal mampu membius wanita normal. Meskipun terdengar berlebihan, namun begitulah Kumala memujinya, apalagi karena Liand memang sangat jarang dekat dengan perempuan. Kumala terus menyembunyikan perasaan bersalahnya pada Liand, terang saja mereka bersahabat sejak tiga tahun yang lalu, namun karena kepengecutan Kumala, akhirnya Kumala memilih menarik diri dari lingkaran persahabatan mereka,tepatnya sejak Perempuan dengan rambut sebahu di tambah padanan celana selutut dan baju biru berlengan pendek itu bergelayut mesra di bahu Liand. Mati-matian Kumala bersikap ramah, supaya perasaan itu tidak cepat berkembang.
Masa lalu yang mungkin hanya Liand dan beberapa teman dekatnya yang tau, sesuatu yang harus di sembunyikan Kumala rapat-rapat,

bukan hal yang memalukan bagi Kumala karena dia sendiri tidak pernah menyesalinya. Apa yang salah jika mengungkapkan perasaan terlebih dahulu kepada seorang laki-laki? Agak terdengar menggelikan mungkin, tapi sudah menjadi keputusannya saat itu. Liand bukan satu-satunya laki-laki tampan yang pernah dilihat oleh Kumala, hanya saja firasat Kumala terlalu mendorongnya untuk meyakini bahwa Liand adalah laki-laki yang dia dambakan, meskipun keraguan menggelayuti Kumala akhirnya Kumala mengungkapkan perasaannya dengan hati-hati. Namun, semua tidak seindah bayangannya, Liand tidak membalas pesan singkat yang dikirimkan Kumala. Hanya saja tidak lama setelah itu Kumala mendapatkan cacian dari seorang yang pernah dekat dengan Liand, “apakah mereka masih bersama?” Tapi Kumala pernah mendengar bahwa Liand sudah berpisah dengan perempuan itu, akhirnya Kumala memohon maaf pada perempuan itu dan mengganti nomor telfonnya.
Lamunannya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya, “Siapa?” tanyanya singkat sambil memindahkan halaman dari profil Liand, “Kak Nadia dek, cepat makan ya, yang lain sudah makan tadi.” Ucap kak Nadia terdengar sayup-sayup dari kamar yang sengaja di kunci Kumala, kak Nadia adalah teman kos yang kebetulan satu kamar dengan Kumala. “Aku sudah makan kak” jawab Kumala singkat sambil bergegas membuka pintu kamarnya. “Sudah, jangan terlalu sering stalking orang dek” guraunya sambil memasuki kamar dan melirik sebentar ke arah layar laptop yang masih menyala, meletakkan tasnya di pojok kamar dan keluar kamar sambil mengambil duduk bersila menikmati siaran berita di televisi.
Kumala kembali berkutat dengan laptopnya, kembali mengarahkan mesin pencarian dan melihat profil Liand, sambil mengusap cuping hidungnya, Kumala kembali terhanyut dengan lamunannya. Liand, betapa dulu dia hampir tidak berani bertemu sahabatnya supaya tidak perlu berbosa-basi menghindari pertanyaan mereka. Entah sejak kapan, perempuan yang dulu pernah dekat dengan Liand mengirimnya pesan singkat dengan ramah, begitu pula Liand, dia bersikap seolah-olah dulu memang subuah guyonan, bagi Kumala itu lebih baik—yang berarti dia tidak perlu gusar berhubungan dengan mereka lagi.
Malam semakin larut tetapi Kumala masih menikmati kegiatan melihat-lihat foto Liand, mengingat-ingat lekuk wajahnya dengan hidung sedikit mancung dan mata yang menyipit setiap Liand tersenyum atau seringaian riangnya. Ah, perasaan apa lagi yang dihadapinya sekarang. Sejujurnya sesederhana yang ia pikirkan, Kumala masih ingin mencari jawaban atas pernyataannya waktu itu. “Bukankah dia sendiri yang meminta Liand—dan perempuan itu—untuk melupakannya?” Kumala mengerjap beberapa kali, sudah lama Kumala tidak segusar ini. Tetapi berpura-pura baik-baik saja pada masa lalu yang berkabut itu bukankah lebih baik, dari pada harus terus berjalan tetapi tidak pernah tau untuk apa seseorang berjalan bukan?
Kumala masih menunggu jawaban dari pernyataannya. Pernyataan bukan pertanyaan, sekedar kata “iya atau tidak” sudah cukup untuk membuatnya tidak berharap. Menjalin hubungan baik dengan Liand tanpa canggung saja sudah menjadi hadiah terbesarnya, sayangnya Kumala masih merasa canggung-malu lebih tepatnya.
Akhirnya Kumala memutar lagu penyanyi favoritnya Raisa menyenandungkan lagu Apalah(arti menunggu), lagu yang sedikit menggambarkan perasaannya. Pelan Kumala merebahkan tubuhnya pada tempat tidur sambil memejamkan matanya, membiarkan lapopnya terus menyenandungkan lagu-lagu, Kumala terlalu lelah kali ini. Biar nanti kak Nadia yang mematikan laptopnya, seperti biasanya,batinnya.
Kau tau betapa lelahnya menunggu? Tetapi aku tidak pernah lelah, bahkan amat bahagia untuk menunggu. Jika nantinya kau kembali, kembalilah. Jika kau tidak kembali, maka ingatlah masih ada aku yang menunggu.

You Might Also Like

2 comments

Give your respons with leaving comment