Belajar menjadi Kakak

3:44 PM


Hidup itu seperti kuncup bunga yang seketika merekah menjadi bunga mekar yang indah. Begitu pula yang saya rasakan. Tahun cepat berlalu hingga seseorang menempati posisi yang lebih muda dari saya. Saya masih adik ketika masih ada yang jauh lebih tua, tetapi seseorang di depan saya ini menjadikan saya lebih tua. Kakak, begitu dia sering memanggil saya.
Mulut kadang terlalu sungkan untuk menegurnya, maksud hati tidak diterimanya masukan. Menyapanya saja masih ragu, takut kalau yang di sapa tidak menerima kehadiran kita. Tetapi saya menganggapnya adik, bahkan rasa sayang saya sama. Tidak ada bedanya ketika saya punya adik kandung—meskipun saya ditakdirkan hanya sendiri. Beginilah cara Allah membuat saya tidak pernah merasakan hadir sendiri dari perut ibuk saya. Dia yang berdiri di depan saya, yang sering memanggil saya kakak. Semuanya adik saya meskipun tidak sedarah.
Selalu mengatakan “Benar” atau “Iya” dalam setiap perkataannya bukanlah semata-mata dia menyayangi. Mulut ini terlalu berat untuk tidak mengingatkan, menasihati atau bahkan teguran yang sedikit keras untuk menegaskan bahwa rasa sayang saya semata-mata demi kebaikannya. Barangkali dia hanya diam, mendengarkan, atau memaki dalam hati kenapa selalu ditegur, kenapa di perhatikan, kenapa diberi masukan? Saya pernah berada pada posisinya, saya tahu suatu saat hal yang landasannya kasih sayang akan selalu di ingat. Bahkan dirindukan ketika sudah tidak ada yang mau menegur, mengingatkan atau menasihati. Atau, dia yang selalu mengatakan iya atau benar dalam setiap tindakanmu yang dia tidak mempertimbangkan baik buruknya dampak untuk mu.
Saya mencintai dia karena Allah, lading pahala yang akan terus mengalir pahalanya ketika kebaikan yang dia contoh atau masukan atau teguran itu di ingat dan dilaksanakan.

You Might Also Like

1 comments

  1. kalau untuk kebaikan lebih baik di sampaikan, perkara orangnya bisa menerima itu urusan nanti, kalau untuk urusan amarah jangan disalurkan, walaupun ada sebagian orang yang bilang, marah kalau ditahan akan timbul kemarahan besar. Bukankah Nabi selalu menegur yang baik baik, dan menahan amarah.

    ReplyDelete

Give your respons with leaving comment