Senyum itu masih tertinggal

5:24 PM


Duduk di lobby gedung ini membuatku lebih nyaman untuk menunggu, teman yang awalnya menjanjikan akan datang pukul 08.00 ternyata belum kunjung datang. Rasa resah sudah menggelayuti sejak saya bersiap berangkat dari kos, salah-salah saya kena semprot kalau terlambat lagi. Duduk di bangku sebelah kanan menghadap kaca lobby gedung yang menghadap mata hari terbit. Warna orange menyusup lewat pembiusan kaca bening di depan mata. Syukurlah pagi ini matahari bersahabat, tidak terlalu terik tetapi cukup menghangatkan.
Seseorang turun dari tangga memakai pakaian olahraga dan sedikit air menetes dari dahinya diikuti oleh ketiga perempuan yang berjalan dibelakangnya. Mataku mulai melirik dan mentapnya penuh—ah dia lagi, senior yang banyak diperbincangkan—lalu seketika ku alihkan lagi pandanganku menatap layar hendphone yang menyajikan games.
Sesekali saya menatap keluar lobby gedung yang bersih ini untuk melihat apakah dia sudah datang. Mataku mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan silaunya sinar matahari, kemudian mengedarkan pandangan ke ruang di sekitar lobby. Ada rak berisi berkas di sebelah kanan tepat sejajar dengan tempat duduk saya yang tersusun rapi, terlihat sengaja dibersihkan setiap harinya. Kemudian, pandangan saya tertarik pada sosok laki-laki yang memakai kaos olah raga yang ternyata duduk di bangku depan saya agak ke kiri di bawah tangga, duduk paling kiri dekat dengan tempat saya bersandar sekarang. Laki-laki dengan tinggi rata-rata dan matanya yang indah, ya saya menyadarinya saat tidak sengaja mencuri pandang dan tiba-tiba dia menatap saya balik. Tidak tajam, hanya meneduhkan, sebelum terlena oleh tatapannya saya mengalihkan pandangan ke layar handphone lagi dan melanjutkan permainan. Hati saya ikut berdebar—takut jika dia menyadari bahwa saya mencuri pandang, dengan bibir bawah tergigit untuk menyamarkan senyum—dengan takut saya menatapnya lewat sudut mata dan dia menatap saya lebih tajam. Akhirnya saya menatapnya penuh dan mengalihkan pandangan pada perempuan yang duduk di sebelahnya, semoga kali ini dia tidak menyadarinya. Tetapi ketika fokus saya kembali ke layar handphone salah seorang temannya menegurnya “hei, kau memperhatikanku kan? Aku tau siapa yang kau pandang” kemudia aku tertarik melihatnya dan dia baru saja mengalihkan pandangan dari saya, hanya senyum lebar sebagai jawaban pertanyaan temannya. Ah sudahlah itu saya yang kegeeran kali ya.
Teman yang saya tunggu akhirnya datang dan kami pun pergi ke lantai dua gedung ini. Tetapi masih ada yang tertinggal, matanya yang indah masih menggatung di hati yang sampai saat ini belum hilang.
Terjebak dalam masa lalu itu tidak menyenangkan tetapi terjebak pada pandangan di depan mata itu lebih tidak menyenangkan 

You Might Also Like

1 comments

Give your respons with leaving comment