Backpacker Jogja-Klaten-Banyuwangi | Day 2

6:22 AM

Hari ke-2
Pulau merah

Sindi dan aku berangkat dari homestay pukul 7.30 mengambil motor sewa dan mengisi bensin. Kami berbekal google map menuju pulau merah. Jarak tempuh diperkirakan 3 jam dengan kecepatan sedang. Papan penujuk arah disana cukup jelas tetapi jalan yang dilalui kurang bagus. Kami berhenti di pinggir jalan untuk sarapan sebentar dan melanjutkan perjalanan. Pulau merah ini juga disebut pantai merah. Jumlah wisatawannya masih cukup sedikit dan sangat nyaman untuk refreshing meskipun saat kami ke sana hari minggu. Sayangnya tidak ada yang menjual souvenir semacam baju atau pernak pernih dengan identitas pantai tersebut. Pantai pasir putih dengan kursi malas dan paying ala pantai menghiasi bibir pantai dan ada pulau kecil, nah itu lah pulau merah yang ditempuh dengan kapal nelayan membayar 20 rb dengan waktu 5-10 menit.

Teluk Ijo

Photo by me

Perjalanan ke Teluk Ijo sangat berkesan karena jarak yang harusnya ditempuh 1 jam menjadi 2 jam. Papan petunjuk di jalan justru membuat kita melalui jalan berbatu dan tanah sepanjang jalan ditambah hari itu hujan deras sehingga sangat licin melewati perkebunan. Petunjuk GMap lebih terpercaya di banding papan petunjuk disana. Saat itu ada dua arah panah Teluk Ijo, yang satunya Teluk Ijo-sukamade. Kesalahan kami adalah memilih Teluk Ijo 8km, seharusnya kita memilih Teluk Ijo-Sukamade melewati perkampungan dengan jalan beraspal yang sangat bagus dan hanya di tempuh 15 menit jadi total Teluk Ijo sampai keluar perkebunan harusnya ditempuh tidak lebih dari 45 menit. Perjalanan mengerikan itu akhirnya terbayar dengan birunya laut, putihnya pasir pantai dan kapal nelayan yang bersandar di tepi pantai. Hari minggu pun disana sangat sepi dan jarang sekali pengunjung, hanya ada beberapa rembongan dan rata-rata berasal dari luar kota. Hal ini cukup mengherankan mengingat aku yang sering ke pantai di daerah gunung kidul yang pasti ramai entah itu libur atau pun hari biasa. Sayangnya masih sedikit warung makan, dan lagi-lagi belum ada yang menjual souvenir khas setempat. Aku dan Sindi parkir motor dan menuju Teluk Ijo menggunakan kapal nelayan dengan membayar 35rb/orang. Awalnya sempat khawatir karena langit mendung dan akan turun hujan sepertinya, setelah bertanya pada penyewa kapal akhirnya kami cukup yakin dan melihat kondisi kapal yang akan kami gunakan cukup bagus membuat kami tenang. Perjalanan menggunakan kapal disuguhi tebing dan tumbuhan hijau di sisi pantai. Sampailah di Teluk Ijo yang tidak berpenduduk dan tidak ada warung. Pantai pasir putih dengan karang- karang yang bersih banget, sebelah sisinya ada air terjun alami. Coba dimana lagi bisa lihat air terjun dan pantai berdekatan? OMG. Andaikan cuaca hari itu bagus pasti aku dan Sindi akan berlama-lama tetapi setelah 15 menit kita sampai justru rintik hujan turun. Kami tetap berbasah bermain dan mengambil gambar di sana. Aku menantang Sindi untuk lomba lari di bibir pantai dan itu melelahkan tapi menyenangkan—efek nonton drama korea hospitalship (yang nonton drakor pasti tau dong adegan itu). Disana kita berkenalan dengan rombongan dosen dari UNAIR dan akhirnya kami bertemu lagi saat di warung. Setelah banyak mengobrol dan sedikit tidak percaya karena kami berdua perempuan menempuh perjalanan kesana. Kami sampai di stadion diponegoro(kan jadi inget univ )sekitar pukul 18.30 dan membeli makan khas Banyuwangi , istirahat di homestay jam 19.30.

Perjalanan=
Klaten (st. Klaten)- Surabaya – Banyuwangi.


You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment