Izinkan aku mengeja warna

2:41 PM




Langit mendung sore ini, rinai hujan terlihat di sela tirai yang menutup kelas, Semarang sering hujan memang akhir-akhir ini. Tuhan amat baik, sungguh irama dari rintik yang menuju gravitasi bumi sebuah terapi menentramkan hati, hati yang panas, kepala yang penat dan kenapa aku duduk dibangku ini dan mengulas perjalananku hingga berpijak di kota tetangga. 

Sepulang kuliah aku berjalan pelan menuruni tangga, sesampainya di lobby gedung aku melihat beberapa orang sedang memotret sesuatu, akhirnya ku tengokkan kepalaku dan Tuhan memberikan kebaikannya satu lagi sore ini, rindu yang sama sejak aku melihat pelangi terakhir —entah kapan aku bahkan sudah lupa.

Aku mengagumi, aku masih menyimpan rindu untuk selalu menemui pelangi ditengah rinai hujan yang melabat. Kau tau kenapa aku merindu? Rindu yang sama setiap aku mengingatmu, rindu yang sama ketika Tuhan mengizinkan aku menemuimu. Sesak di dada seketika hilang, yang bergemuruh hanya rinduku yang beradu dengan waktu entah siapa nanti yang akan mampu menggusurkan.

Aku ingin merangkulmu, duduk mendampingmu berbagi cerita tetang perjalanan hidup yang lama berlalu. Teriris rasanya saat malam itu aku tidak sengaja membaca history di jejaring social. Dulu, aku tenang, berbangga dan percaya ketika kau menjauh mungkin itu waktu yang tepat Tuhan mengajarkan kedewasaan serta aku percaya hidayah sudah turun. Allah, apakah dia yang menolaknya? Akankan hidayah itu engkau ambil lagi? Akalku tak mau menerka, aku tak sanggup terluka lebih jauh.

Aku mendoakanmu, mendoakan hidayah itu kembali datang sebelum kau benarbenar menolaknya. Kawan, entah dengan alasan apa kau dulu mau menjemput hidayah itu dan ketika seseorang yang membuatmu terdorong menjemput hidayah itu mulai melonggarkan diri kenapa kau mundur? Kenapa kau menjauh dari hidayah itu? Atau Tuhan memang belum mengizinkan hidayah itu datang padamu?
Pelangi bak kita, keterbatasan, keunikan dan keberagaman membuat kita menyatu, membuat kita saling menguatkan membentuk ikatan yang menawan dan elok. Meski hujan membuat kebanyakan orang benci, tapi aku mencintai rinainya, mencintai tetes air yang mampu menyamarkan air mataku. Allah, pelangi muncul untuk melepaskan ikatan yang membuntal hatiku, kau maha adil dan maha mengerti sesuatu yang terbaik bagi hamba-hambamu.

You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment