Si Tua Pengayuh Sepeda

6:38 AM





Senja itu dibawah naungan langit yang kemerahan aku di jemput bapak sepulang dari Semarang. Hiruk pikuk raja jalanan—read: truk,bus dan container—saling menyalip di jalan utama, sedangkan aku dan bapak memilih pelan-pelan di jalur lambat. Mataku menangkap betapa lengkapnya dunia, mobil mewah yang beradu dengan motor bebek bahkan ia yang barusan ku dahului jalannnya, raut wajahnya tegang. Si tua pengayuh sepeda, dengan sekuat tenaga ia mengayuh sepeda tua dengan raut wajah tegang, tas kecil bertengger di punggungnya, sesekali menongkan wajahnya ke arah jalan utama.wajah penuh harap bertemu keluarganya pasti menjadi salah satu alasan mengapa ia dengan semangat saat mengayuh sepeda. Di hapusnya peluh dengan tangan kiri.

Aku tidak bisa membayangkan betapa ikhlas itu tidak terukur dan tidak ada batasnya, ketika orang tua jatuh bangun tetap mengayuh sepeda di bawah guyuran hujan atau di bawah teriknya mentari terkadang kita sebagai anak mengabaikan itu, menghamburkan uang dengan mudah, tanpa bersyukur tetap mengeluh “bapak, ini uangnya kurang buat sekolah, buat beli pulsa dan aku banyak keperluan” astaghfirullah maafkan kami bapak. Padahal, kalau bisa mereka memberi kita lebih pasti tanpa kita mintapun bapak akan member lebih, terkadang harus sampai hati menghutang pada tetangganya untuk kita. Kawan, sejenak merenung yuk, kapan kita terakhir mengucapkan terima kasih ketika di beri saku? Tanpa mengeluh. Sekali-kali bahagiakan mereka dengan mengucapkan terima kasih dan katakanlah “uang ini lebih dari cukup pak”, biarkan hati mereka bahagia sesekali atau paling tidak biarkan goresan luka di hati mereka mongering sejenak. Pilu rasanya ketika kerja keras tidak di hargai, tetapi bapak itu hebat dalam keterbatasanpun tetap bisa tersenyum di depan anak istrinya. Tetap istiqomah mencari nafkah demi sesuap nasi di setiap paginya. Ya Allah sungguh, betapa beratnya menjadi orang tua terpatri di sudut-sudut kasih sayang.

You Might Also Like

0 comments

Give your respons with leaving comment