Nyala layar celluler
sesekali membuatku tidak nyaman. Namamu berada beberapa baris atas yang muncul
pada layar, aku tidak suka situasi ini. aku tidak berharap Tuhan masih
menitipkan perasaan untuk aku manjaganya. Kalau kamu bilang itu bertahun yang
lalu, aku sepakat. Kita sama-sama belajar untuk menjadi biasa, bahkan kamu yang
memulai terlebih dahulu. Tidak akan muncul ucapan terimakasih karena kita tidak
pernah saling merugikan, tidak ada yang butuh penghargaan. Aku pikir ini bukan
lagi luka karena aku hampir tidak merasakan perihnya melepaskan.
Aku belajar memunculkan
banyak alasan bertindak darimu. Aku masih ingat ketika kamu berpikir bahwa aku
yang berjalan mundur membuat jarak, tetapi justru kamu yang terlalu cepat
berjalan sehingga aku memilih untuk tidak bergerak yang menciptakan jarak. Sudahlah,
aku hanya masih mengingat namamu dan beberapa hal yang kamu sukai. Satu lagi,
aku tahu kamu tidak suka ketika aku menulis karena kamu.
Kemarin hujan turun
setelah kemarau panjang. Hujan terlalu deras disertai petir yang menyambar dari
lagit. Aku ingin sekali menanyakan kabarmu, tetapi aku takut. aku ingin
mendongeng jika aku ditegur Tuhan dengan perasaan bahagia ketika melihat orang
lain tersenyum. Kadar bahagia ini yang salah, tidak biasanya aku lega melihat tawa
seseorang. Tawa itu membuatku takut, aku tidak suka keadaan ini jika dia tahu
dan memintaku untuk belajar tidak membuat tawa lagi jika alasannya adalah dia.
Draf file bertebaran di
beberapa folder yang seharusnya tidak ada tulisan seperti ini. Tulisan tentang
aku yang sedang belajar untuk tidak jatuh cinta. Jangan lagi benci aku karena
aku lambat belajar, tetapi percayalah akan dating masanya aku yang mengundangmu
untuk berjajar bersamaku dalam kebahagiaan pertemanan yang menyimpan semua permintaan
sehingga hanya muncul kerelaan.
Hilangkan risaumu,
karena aku sudah menemukan cara lain untuk merapikan masa lalu kita dalam
mozaik yang tidak bersisi. Kalau kamu sempat membaca tulisan-tulisanku maka
cobalah untuk belajar hal yang sama. aku tidak suka bertengkar. Mengalahlah
untuk aku, sekali saja untuk memulai fase yang baru.





















