Angin
di sini tak sedingin desaku
Ramah
tamahnya mulai luntur
Bau
tanahnya tak membuat merindukan
Kalanya
air tak bening asalku
Air
mulai jauh, ke dalam bumi, sulit dicari
Teriknya
bukan menghangatkan tetapi hampir menyengat
Satu
lagi….
Aku
rindu ibu, cukup
Lalu
lalang kendaraan seperti uraian benang yang tak terurai
Peradapan
metropolitan katanya
Celoteh
aku hanya ingin terbebas dari desaku
Celoteh
aku tak belajar sungguhan
Celoteh
pengharapan
Ah,
tumpukan kalimat itu kini mengikutiku di perantauan
Ibu,
cukuplah aku yang dewasa
Ibu,
cukuplah umurku untuk bertanggung jawab
Tanah
rantau tidak kejam
Tanah
rantau hanya menyeleksi orang yang lemah
Tanah
rantau ramah tamah bagi yang mau beretika
Tanah
rantau gaungnya tak terkira…
Ya,
terkadang aku ingin pulang
Memeluk
setiap saat
Ramah
tamah dengan warga desa yang penuh senyum
Tapi,
aku kini anak rantau..


























